Dokumen Apa Saja yang Harus Dipersiapakan untuk Mengikuti Program Weltwärts? #2

By | December 04, 2018

Sejak call for candidates Weltwärts Reverse Program 2019-2020 dibuka awal bulan Desember ini, mendadak banyak banget yang dm tanya-tanya tentang program ini. Sebenarnya aku seneng sih kalau banyak yang tertarik dengan program ini dan tanya-tanya ke aku cuma kadang agak annoying kalau ada yang tanya tanpa mau berusaha cari tahu dulu. You know what I mean? Aku enggak suka menjelaskan hal yang sama berulang-ulang jadi untuk mengantisipasi itu aku berusaha nulis dan share apa yang aku tahu lewat posting di blog ini. Jadi tolonglah luangkan waktu buat baca-baca di sini. 
Okay, sebelum aku lanjut bahas tentang dokumen apa saja yang harus dipersiapkan untuk mengikuti program Weltwärts ini aku mau update kabar dulu nih. 

"Apa kabar lo Zha? Baik-baik aja kan di sana?"
"Gimana, udah mulai kangen nasi belum?"
"Wis persiapan apa aja buat winter?"

Pertama, kabar aku lagi kurang baik. Aku sakit sejak tiga hari yang lalu. Gejalanya persis seperti gejala masuk angin; badan panas, batuk, bersin, pilek, perut kembung, dingin ditambah rahangku sakit kalau buat nelan sesuatu. Kayaknya sih ada sariawan di pangkal lidah. Hari ini sudah ke dokter. What an experience! Nanti aku bakal cerita pengalaman pertama aku periksa ke tempat praktek dokter di Berlin. Di post-post selanjutnya pastinya.
Rentetan tweet ini mungkin cukup bisa menggambarkan gimana keadaan aku saat ini. Kangen rumah, kedinginan, butuh pelukan sambil dipuk-puk~, meriyang aka merindukan kasih sayang wqwqwq~
Kamu, iya kamu yang lagi baca tulisan ini dan berniat buat apply Weltwärts tahun depan kira-kira udah siap belum untuk menghadapi keadaan semacam ini or even worst? Karena barusan aku dapat kabar kalau ayah temenku realwan Weltwärts dari Uganda meninggal dunia. Sedih? Pastilah! But the show must go on... Kalau belum siap dengan konsekuensi  macam ini aku saranin jangan apply dulu ya my lov~ Gimana? Masih mau tetep lanjut nggak?
Lanjut dong ya? Yuk! Mulai bahas apa lagi sih dokumen yang harus dipersiapkan untuk mengikuti program Weltwärts ini?

Police Clearance Certificate atau SKCK

Tahun 2015 merupakan pengalaman pertamaku membuat SKCK di kepolisian. Pertama aku datang ke kantor Polsek Dukuhturi Tegal untuk bertanya apa saja syarat untuk membuat SKCK. Semua persyaratan bisa aku penuhi kecuali satu; rumus sidik jari. Karena aku belum pernah membuat SKCK sebelumnya, jadi tidak ada catatan rumus sidik jariku di Polsek tersebut. Nah rumus sidik jari ini hanya bisa dibuat atau diproses di Polres Kabupaten Tegal.
Waktu itu aku nekat datang sendirian tanpa babibu ke Polres Kabupaten Tegal yang letaknya dimana saja aku belum tahu persis. Berbekal tanya-tanya sama orang dan 'awang-awang' aku berangkat ke Slawi. Tegal-Slawi bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit dengan mengendarai sepeda motor. Jadi sepeda atau motor nih? Kok ngajak ribut sih? LOL!
Anyway, akhirnya aku dapat juga rumus sidik jariku. Aku ingat waktu itu harusnya bayar Rp. 10.000,- tapi karena tahun 2015 aku masih jadi mahasiswi kere yang kadang dikasih uang saku sama mama kadang enggak dan kebetulan hari itu enggak dikasih jatah jajan jadi aku enggak bisa bayar. Untung bapaknya enggak 'rese' maksain aku harus bayar. Karena kalau 'rese' aku bisa 'resein' balik dengan cara ngaduin pungli di lingkungan Polsek Kabupaten Tegal ke Pak Ganjar hahahaha...
Well, dengan rumus sidik jari yang sudah aku buat, SKCK bisa diproses. Sebenarnya SKCK bisa dibuat dan diperpanjang di Polsek maupun di Polres. Tapi untuk persyaratan Weltwärts tahun 2018 SKCK harus dibuat di Polda dengan stating berbahasa Inggris "Application for WW Program in Germany". Untungnya sejak lulus kuliah aku pindah ke Semarang jadi mudah saja untuk mengurus pembuatan SKCK di Polda Jawa Tengah. Aku mengajukan permohonan pembuatan SKCK di Polda Jawa Tengah secara online. Caranya? Googling please! Gampang kok. Prosesnya lebih cepat karena setelah mengisi form secara online kita hanya tinggal datang ke Polda untuk mengambil SKCK yang sudah jadi. Biayanya Rp. 30.000,- ada kuatansinya jadi bisa dipastikan ini bukan pungli ya... :p 

Passport

Sudah baca tulisan yang pertama kali aku tulis tentang pengalaman mendaftar Weltwärts Reverse Program? Pertama kali aku daftar program Weltwärts ini aku bahkan belum punya passport! Jangan ditiru ya. Karena passport penting banget kamu punya untuk menunjukkan seberapa besar motivasi kamu apply program long-term. Kenapa waktu pertama kali coba daftar Weltwärts aku belum punya passport? Ya kembali lagi alasannya mentok di uang. Karena waktu itu aku masih jadi mahasiswi kere yang bahkan enggak mampu bayar Rp. 10.000,- untuk pembuatan sidik jari SKCK apalagi untuk bayar biaya pembuatan passport? LOL!
Tapi akhirnya aku bisa nabung dan berhasil punya passport tanggal 17 Februari 2016. Yeay! Pertama aku mengajukan permohonan untuk membuat passport secara online dan membayar biaya melalui bank, kemudian aku datang ke kantor Imigrasi terdekat dengan membawa persyaratan dokumen yang diperlukan (asli & salinan) untuk keperluan wawancara dan foto. Selanjutnya aku datang lagi untuk mengambil passport ku yang sudah jadi.
Kelihatannya gampang ya? Tapi sebenarnya drama banget lho... Jadi waktu aku harus datang langsung ke kantor Imigrasi di Pemalang itu pertama kalinya aku nyetir jarak jauh Tegal-Pemalang selama kurang lebih 1 jam 45 menit naik motor, sendirian banget dan HUJAN! Hujan sepanjang perjalanan Tegal-Pemalang-Tegal. Pas mau wawancara sih enggak apa-apa, paling cuma kehujanan doang tapi nih ya tapi... pas mau ambil passport pulangnya kehujanan lagi dong! Hujannya lumayan deras dan anginnya kenceng banget. Waktu itu tas ranselku aku taruh di depan motor beat biar bahunya enggak pegel. Iya bahunya enggak pegel sih... tapi smartphone kesayangan hadiah menang lomba nulis blog mati karena kena air. Tas aku enggak water proof dan air dari jas hujan ngalir ke bawah bikin tas dan seisinya basah kuyup. Passport selamat sih karena aku masukin ke clear folder, tapi smartphone aku mati total! Kalau inget hari itu jadi syedih akutu~
Jaman itu belum aktif di twitter jadi nggak 'ngalay' di sana tapi dua tahun kemudian kehujanan di jalan pas ngurus dokumen Weltwärts terulang lagi. Jadi silahkan menikmati ke-'alay'an ku di tweet-tweet ini, bhahahaaa
Unch~ jadi kangen sama temen neduh waktu itu... #eaaa

Aku lanjut nanti ya karena udah ngantuk banget nih, sekarang sudah jam 01.40 waktu Berlin. Itu berarti di Indonesia sana sudah pagi. Selamat pagi... have a nice day for you and sleep tight for me! :))
***
Sudah sore dan kebetulan sudah tidak ada yang harus aku kerjain hari ini. Lanjut bahas tentang dokumen apa saja yang harus dipersiapkan untuk mengikuti program Weltwärts yuk! Setelah application form, language certificate, medical certificate, police clearance certificate dan passport dokumen yang harus kamu siapkan selanjutnya adalah...

Assignment Form

Aku pernah bahas sedikit tentang assignment atau follow up program di tulisan ku sebelumnya tentang tips lolos seleksi interview Weltwärts Reverse Program. Pada saat interview aku ditanya tentang apa saja kontribusi yang sudah, sedang dan nantinya akan aku berikan pada GREAT Indonesia sebelum, selama dan sesudah mengikuti Weltwärts. GREAT Indonesia menganggap kontribusi ke komunitas adalah hal yang penting jadi hal ini selalu aku tekankan dari awal. Chance kamu ikut Weltwärts akan lebih besar kalau kontribusi kamu ke GREAT Indonesia juga besar. Saking pentingnya kontribusi ini, pihak GREAT Indonesia selalu menanyakan ini kepada applicants dari awal mengisi form pendaftaran di Google Form, pada saat interview sampai pada saat seleksi berkas lanjutan setelah interview. Diskusi tentang kontribusi ini juga terus berlanjut pada saat Pre-Departure Training. Bahkan untuk seleksi tahun 2019-2020 applicants diminta untuk membuat essay tentang "My Contribution for My Community". See?
Kamu penasaran enggak sih sama kontribusi aku ke GREAT Indonesia? Aku mau share tapi malu. Wong kontribusiku cuma gitu-gitu thok kalau dibandingkan member dan staff yang lain. Komen di bawah ya! Kalau banyak yang request sharing bakalan aku share juga. Biar teman-teman relawan baru juga makin semangat untuk berkontribusi. Siapa tahu bisa jadi inspirasi kamu juga. Karena sekecil apapun kontribusi yang kita berikan, kontribusi tetaplah kontribusi.

Other Supporting Documents

Dokumen pendukung lain yang aku lampirkan adalah sertifikat kegiatan kerelawanan yang aku punya sejak dulu, misalnya sertifikat camp leader, ijazah S1 atau surat rekomendasi dari orang yang pernah melakukan project bareng. Kamu juga bisa melampirkan sertifikat bakti sosial di kampus kamu, sertifikat KKN atau praktek lapangan yang berkenaan langsung dengan masyarakat, bisa juga melampirkan sertifikat pelatihan yang nantinya bisa mendukung kamu saat melakukan project di Jerman.
Pokoknya sertifikat atau surat rekomendasi yang kamu punya bisa dilampirkan sebagai dokumen pendukung untuk mengikuti program Weltwärts ini. Tapi ya.... bukan surat cinta dari mantan pacar juga, lol!

Fyuh, akhirnya post ini selesai juga. Kalau kamu mau tanya-tanya atau diskusi lebih lanjut bareng aku silahkan banget lho... pasti aku jawab kalau memang perlu dijawab. Hahahahaaa
Buat yang sudah punya nomor WhatsApp Jermanku, bisa banget kalau mau calling pas weekend dan pas aku lagi gak kencan lho ya... *eh! Bonusnya bisa cerita, curhat dan seru-seruan haha-hihi bareng aku, tukar kabar terkini yang lagi hits dan kamu bakalan dapat pahala juga karena bisa bikin seneng orang yang lagi kangen Indonesia ~

You Might Also Like

0 comments