Tips Lolos Seleski Interview Weltwärts Reverse Program

By | October 25, 2018

Setelah dag dig dug menunggu pengumuman seleksi administrasi di bulan Januari 2018, tanggal 5 Feburari 2018 aku dapat email yang isinya siapa saja kandidat yang berhasil lolos ke tahap interview. Ada 11 orang yang berhasi lolos ke interview, salah satunya adalah aku. Ada beberapa nama yang enggak asing buat aku ada juga nama-nama yang baru aku tahu. Siapapun itu, aku yakin kesepuluh orang lain yang lolos seleksi bukan lawan yang bisa diremehkan. 
Di email yang sama juga dijelaskan kalau proses interview akan dilakukan via WhatsApp oleh Program Manager GREAT Indonesia saat itu, namanya Galuh Sutopo (Ms) soon to be Mrs, maybe... :p
Interview akan dilaksanakan tanggal 8 Februari 2018 di jam-jam yang sudah ditentukan. Sebagai selected candidates for interview, kita dipersilahkan untuk memilih waktu yang sesuai dengan ketersediaan kita. Karena waktu itu aku sudah enggak kerja alias nganggur alias sudah jadi freelancer maka waktu bukan masalah yang besar, aku sih flexible... Masih ingat kemarin itu aku sengaja enggak langsung balas email itu, aku kasih waktu buat teman-teman yang kuliah atau kerja dan enggak punya waktu se-flexible aku agar bisa memilih waktu yang sesuai sama mereka dulu. Setelah udah pada milih waktu, baru deh aku bales. Waktu yang aku pilih buat interview adalah 14.40-15.00 tepat satu sesi setelah break.
***
Aku punya waktu tiga hari buat mempersiapkan diri menghadapi sesi interview nanti. Apa saja yang aku lakukan untuk mempersiapkan diri?

Identifikasi sebab kenapa aku selalu gagal di tahap interview dan cari tahu solusinya

Pertama banget nih, karena aku tahu aku sudah gagal dua kali dan sudah coba untuk mengidentifikasi sebabnya. Selanjutnya, aku mencoba cari tahu bagaimana aku bisa mengatasi itu. Di post sebelum ini aku pernah cerita sedikit tentang panic attack kan? Sudah baca belum? Kalau belum mending baca dulu gih!
Setidaknya aku pernah mengalami panic attack yang benar-benar parah gejalanya satu sampai tiga kali. Panic attack yang berhasil membuat dua tanganku tidak bisa bergerak sama sekali, dada tiba-tiba sesak dan aku hanya bisa menangis seketika itu adalah waktu aku mendengar ancaman diskualifikasi diriku dari kelompok delegasi English Camp SMK RSBI Jawa Tengah di Salib Putih, Salatiga. Waktu itu aku bolos latihan satu kali karena ikut keluarga mengantar bapak berobat ke RS Karyadi. Well, bapak divonis sama dokter kena kanker paru-paru stadium akhir waktu itu. Sebenarnya aku sudah punya firasat kalau bapak akan pergi cepat atau lambat sih, jadi sebisa mungkin aku menghabiskan waktu bersama bapak dan keluarga daripada pusing mikirin persiapan acara sekolah.
Tapi di sisi lain aku juga enggak mau kehilangan kesempatan untuk ikut mengharumkan nama sekolah di tingkat provinsi. Kan lumayan bisa jadi ajang mengembangkan diri, menambah pengalaman, menambah teman dan menambah koleksi sertifikat yang saat itu aku anggap penting untuk mendaftar ke Universitas negeri impian. Makanya pas aku ditelepon langsung sama ibu guru pembimbing dan diancam akan didiskualifikasi dari tim sekolah, tubuh dan pikiranku bereaksi berlebihan seperti itu. Butuh waktu lama untuk menenangkan diriku saat itu dan aku clueless banget, benar-benar enggak tahu apa gerangan yang terjadi padaku saat itu. Bulik atau tante yang lihat aku nangis kejer sampai enggak bisa gerakin tangan dan enggak bisa ngomong pun bingung bukan main, sambil coba menenagkanku dan memintaku bersabar atas apapun masalah yang aku hadapi saat itu. Hikz T_T
Tapi pada akhirnya aku dan timku tetap diberangkatkan ke English Camp di Salatiga sih karena enggak ada yang mau buat gantiin aku di tim itu, selain karena persiapannya banyak, waktunya juga sudah mepet. Kalau dipikir-pikir sekarang sih kenapa ya ibu guru pembimbing waktu itu pake acara ngancem-ngancem aku segala cuma gara-gara aku bolos latihan satu kali? Ya! Selalu ada hikmah dibalik semua kejadian yang menimpa kita di dunia ini. Karena kejadian itu, sekarang aku jadi tahu tentang panic attack.
Panic attack yang aku ingat selanjutnya aku alami setiap kali interview untuk program Weltwärts ini selama dua kali berturut-turut tahun 2016 dan 2017. Gejalanya? Deg-degan banget, enggak wajar dan pas aku jawab pertanyaan interviewer cara berbicaraku terbata-bata banget dan enggak enjoy sama satu lagi aku tiba-tiba lupa sama apa yang mau aku omongin atau sama perkiraan jawaban yang sudah aku persiapkan sebelumnya. Anehnya pas udah selesai interview detak jantungku normal lagi ritmenya dan otak aku mulai berfungsi dengan baik. Aku ingat semuanya, tapi nyesek banget karena aku cuma bisa menggerutu, "harusnya tadi aku jawab kaya gini aja ya," atau "kenapa tadi enggak kepikiran buat jawab gini sih?"
Hadeh. Frustrating? I know. Makanya kali ini aku enggak mau membiarkan hal yang sama terjadi lagi. Jadi hal pertama yang aku persiapakan sebelum interview Weltwärts saat itu adalah mencari tahu lebih lanjut tentang apa itu panic attack dan bagaimana cara mengatasinya. Caranya? Googling lah! Coba ketik saja "how to overcome panic attack" di kotak pencarian google. Jangan harap aku bahas detail di post ini ya! LOL

Find copping statement and manage your expectation

Kalau ditanya apa ketakutan terbesarku saat interview jawabannya adalah aku takut gagal lagi. Sounds familiar? Not rational? Or what? Yap! Aku sendiri sebenarnya tahu kalau aku harusnya tidak boleh terlalu fokus pada hal-hal yang belum tentu terjadi. 

"Aku mau interview nih tiga hari lagi, tapi aku takut kalau nanti enggak lolos lagi gimana? bla bla bla..."

Aku berkali-kali diingatkan oleh orang terdekat kalau pikiran negatifku tentang sesuatu itu enggak baik, malah memperkeruh keadaan, bikin insecure sendiri dan aku harus berhenti memikirkan kemungkinan terburuk. Instead of thinking about what if bla bla bla better you think how to deal with it. Hal itu yang selalu aku tekankan pada diriku sendiri akhir-akhir ini. 
Okay, how do I deal with that negative thinking? First of all I have to stop it! STOP! Aku harus sadar kalau pikiran-pikiran negatif itu enggak baik buat diriku. Pikiran-pikiran negatif itu sama sekali enggak sehat dan enggak bisa membantu menyelesaikan masalah. Sebaiknya aku merubah cara berfikirku ke arah yang lebih baik dan belajar memandang suatu masalah dari sudut pandang yang lain. Seperti yang sudah aku katakan tadi, daripada khawatir tentang hasilnya nanti lebih baik aku berpikir bagaimana caranya biar aku bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saat interview nanti atau bagaimana caranya aku mengatasi gangguan panic attack saat interview. 

"So I feel a little anxiety now, SO WHAT? It’s not like it’s the first time. I am going to take some nice deep breaths and keep on going. This will help me continue to get better."

Tapi guys, penting juga untuk tetap menyiapkan diri kita kalau kemungkinan terburuk terjadi ya... istilahnya managing expectation. Jadi aku juga selalu bilang ke diriku sendiri kaya gini:

"I can do it and I am totally fine whatever the result is." 

Aku bisa bilang kaya gitu karena aku sudah mempersiapkan diri semaksimal mungkin jadi aku yakin sama diriku sendiri kalau aku bisa melakukannya. Interview doang elah, apa susahnya sih? Cuma harus jawab pertanyaan kan? #ea... kalau lolos ya syukur, aku bisa melakukan step-step dan persiapan selanjutnya kalau enggak lolos YA UDAH! Ya udah. Aku bisa lanjut ngeblog, ikut banyak event, ikut lomba blog, famtrips, lebih aktif di GREAT atau piknik ke Karimunjawa tiap bulan. Hahahaha 

Read (again, thoroughly) the application that you submit

Hal yang sering aku lupakan saat mempersiapkan diri untuk interview adalah application form. Mungkin karena biasanya jarak antara seleksi administrasi dan interview itu terpaut cukup jauh kali ya. Saking jauhnya jadi lupa kan? #eh! Padahal kan yang bisa membawaku sampai ke tahap interview ini ya semua hal yang aku tulis di application form itu lho...
Ini salah satu tips yang aku dapat dari... dari siapa ya? Aku lupa. Kalau enggak dari si Septi ya dari Riya. Kayaknya sih dari Riya. Jadi waktu itu dia bilang kalau interviewer sebelum meng-interview kita mereka akan melihat application form yang kita submit dan menjadikan itu sebagai dasar untuk bertanya pada kita saat sesi interview. Dengan membaca lagi application form, aku juga bisa memperkirakan pertanyaan apa saja yang nanti akan mereka tanyakan padaku sambil mempersiapkan jawabannya. Kalau misalnya ada jawaban yang kurang pas saat mengisi application form, aku juga bisa mencoba menjelaskan lagi saat sesi interview nanti. 
Percaya deh, pertanyaan-pertanyaan yang bakal ditanya saat interview nanti pasti enggak jauh-jauh dari application form yang sudah kita isi.

More tips and tricks on how to answer the interview questions

Sebenarnya untuk menyelesaikan tulisan ini aku berharap bisa ngobrol sama interviewers aku saat itu, kali aja mereka masih ingat apa yang mereka tanya ke aku pas interview dulu karena aku juga agak lupa. Beberapa pertanyaan yang aku ingat adalah tentang follow up program (assignments), my biggest fear dan terkahir aku disuruh menjawab pertanyaan why we have to choose you as one of the selected candidate of Weltwärts program 2018.
Peraturan pertama yang aku pegang teguh sih gini, simple sebenernya: kalau aku enggak benar-benar paham dengan maksud pertanyaan yang ditanyakan, aku enggak akan jawab dulu. Jadi aku bakal tanya balik ke interviewer untuk memperjelas pertanyaannya, so I get the point. Beneran lho... pertanyaan pertama tentang follow up project tuh 'mbingungin' banget buat aku, jadi aku minta tolong Galuh buat jelasin lagi maksud dari pertanyaan itu. Dari penjelasan Galuh aku nangkep kalau Weltwärts Program enggak cuma program selama satu tahun di Jerman nanti, tapi Weltwärts Program adalah satu kesatuan mulai dari preparation, during and after the program. Dan pertanyaannya adalah sejauh ini apa yang sudah aku lakukan untuk program ini. Sampai sini sudah ada bayangan kan kira-kira aku bakal jawab apa?
Pertanyaan kedua tentang ketakutan terbesar. Agak dilemma sih pas jawab pertanyaan ini. Tapi aku ingat ada cara jitu buat jawab pertanyaan semacam ini pas googling tentang how to answer interview questions. Karena pertanyaannya adalah ketakutan terbesarku, enggak mungkin juga kan aku jawab, "Nope. I'm okay with anything." atau "I'm perfect. I do not fear at all." Atau aku kasih jawaban yang jujur dan polos banget dan menyebutkan semua hal yang aku takutkan yang kemungkinan akan terjadi selama mengikuti program ini, so they can figure it out the way to help me. Nope! Bukan itu juga maksud mereka menanyakan hal ini kan?
Terus gimana dong cara jawabnya? Well, there should be a solution for every problem. And they wanna know how would you deal with problem that you yourself encounter. Jadi kalau misalnya aku jawab ketakutan terbesarku adalah if I cannot survive during the winter. Aku juga harus bilang ke mereka kalau I have solutions to deal with it. Ya misalnya nih, kan di sana nanti bakal ada heater, terus aku juga bisa pakai pakain yang proper during the winter sama aku juga kasih tahu ke mereka kalau tubuhku ini bisa beradaptasi dengan baik. Orang-orang Indonesia lain yang pada kuliah di Jerman aja banyak kok yang bisa bertahan selama musim dingin dan mereka enggak apa-apa tuh. Enggak pernah denger juga ada berita yang judulnya Mahasiswa Indonesia Mati Kedinginan di Berlin. Kalau mereka aja bisa, aku juga pasti bisa dong!
Pertanyaan terakhir tentang kenapa mereka harus milih aku? Itu sih pinter-pinter aku aja jawabnya gimana. Yang penting harus optimis dan percaya diri. Yaiyalah! Kalau aku sendiri enggak optimis dan percaya pada diri sendiri, gimana orang lain mau percaya sama aku? 

Wis, gitu aja tips lolos seleksi interview Weltwärts Reverse Program dari aku. Good luck! Jangan lupa cari referensi lain. Aku mau bobok dulu ya! Sekarang sudah jam 23.23 waktu Berlin.

You Might Also Like

2 comments

  1. Tips yang sangat berguna Jha! Nggak cuma buat interview untuk keperluan ini tapi juga buat yang lain! Congrats! jangan lupa souvenir dari jerman saat kamu pulang yak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hallo Mas Nuno! Thanks udah mampir... Kapan nih kita makan-makan bareng lagi?
      Mau dibawain oleh-oleh apa mas? Tapi nunggu satu tahun siap? :D

      Delete