Weltwärts: Dag Dig Dug Menunggu Pengumuman Seleksi

By | August 10, 2018

Dua bulan enggak ada tulisan di blog rasanya sepet juga ya. Sesepet perkembangan hubungan kita (kita?). Tapi ya mau gimana lagi? Karena pas mau nulis di blog itu tuh banyak banget cobaannya. Maleslah, enggak ada waktu lah, sakitlah, giliran sudah ada waktu eh ada temen kost dateng ke kamar minta curhat. Tebak deh dia cerita apa?

"Papah tu enggak akan menghalang-halangi kamu, silahkan... Tapi kamu harus lulus kuliah dulu!"

"Tapi gua pernah lho ansos. Pas gua kuliah dulu."

"Pokoknya semua sifat temen-temen gua tuh enggak ada yang nyambung sama gua, jadi gua suka menghidar gitu sama temen-temen kampus. Tapi gua gak ansos lho di luar kampus jadi sosialisasi gua ya di luar kampus. Sampai gua dicap ansos sama temen-temen kampus gua dulu."

"Dia mah maunya disapa dulu, berasa kaya orang penting aja."

"Sama kaya yang depan kamu juga gitu. Dia pernah bilang sendiri kok sama gua."

Uhuk... uhuk!
Ini saya yang batuk. Belakangan ini memang kondisi badan lagi kurang stabil karena kecapean, susah tidur, flu dan butuh piknik.

"Coba kamu minum itu cu, jeruk nipis sama kecap."

"Soalnya temen-temen kampus gua yang sekarang ya... mereka itu satu, suka ngerumpi. Kedua, suka ngebully orang. Yang ketiga suka ngepoin orang."

"Eh lu tahu gak? Mantan gua nge-WA gua. Ngucapin selamat Idul Fitri, makanya gua ganti nomer sih."

"Jangan ganggu tunangan gua! Terus cuma di-read doang sama dia."

Dan kerecehan-kerecehan dia masih berlanjut, entah sampai kapan.
***
Maaf ya, kamu jadi harus baca satu paragraf absurd curhatan teman saya di atas yang enggak nyambung banget dengan judul tulisan ini. Intinya gini sih, saya mau update cerita tentang pengalaman saya mendaftar program Weltwärts. Dari mulai drama bikin passport yang sampai sekarang belum sempat saya tulis, drama kegagalan berkali-kali sampai akhinya (gimana ya akhirnya? Kalau mau tahu akhirnya gimana kamu harus banget baca tulisan ini sampai habis ya!) drama enggak bobok seharian gegara isi application form, drama bikinan teman sendiri yang emang dasarnya dia drama banget, drama perpanjangan deadline dan drama-drama lain yang bakalan saya tulis semua rencananya (rencananya...).
Jadi kalau saya tidak salah ingat, kalau tidak salah ya... tanggal 26 Januari 2018 atau sehari setelah penutupan pendaftaran semua applicant mendapat email yang sama yang isinya seperti ini:

Dear Applicants of the weltwaerts program,

Thank you everyone for applying for the weltwaerts program to Germany we are pleased to see that so many people are interested in this program.
We, the GREAT Outgoing Team, need some time for the election process and we would like to ask you to be patient the process will take some time and you will hear from us until the beginning of February.

For those of you who are not (yet) members of GREAT, I am sorry to inform you that we cannot choose you because one of our requirements is to be an active GREAT member. But we welcome your membership application which you can find here http://www.greatindonesia.org/members/ .

After applying as a member or if you just became a member, we invite you to join our several activities which differ from each GREAT of City. And we will be happy to receive your application for the weltwaerts program next year.

All of you will hear from us in the beginning of February.
Thank you for your patience on waiting for our E-Mail.

Regards,
Leefke Hinderlich
Intern GREAT Indonesia Outgoing


So many people are interested in this program. Catet ya! Ini salah satu kalimat yang bikin saya super deg-degan dan insecure banget. SO MANY PEOPLE, bro... sist...  dan saya enggak bisa mendapatkan jumlah pasti dari kata-kata so many people itu. Apa seratus? Sepuluh, ah kayanya enggak mungkin cuma sepuluh deh! Seribu atau malah sepuluh ribu? Tapi kayanya juga enggak mungkin sebanyak itu. Since, enggak banyak orang juga yang tahu tentang program ini.
Di email itu juga enggak kelihatan siapa-siapa saja yang mereka kirimi. Pas di klik di daftar recipients yang keluar malah cuma alamat emailnya program manager. Lha kalau cuma ada nama dia kenapa juga email ini bisa sampai ke inbox saya ya? (Benar-benar canggih! Atau emang saya yang 'katrok'?).
Tapi ada juga sih paragraf yang bikin saya seneng bukan kepalang, karena non-member yang juga ikut-ikutan apply program ini sudah pasti enggak diterima karena salah satu syarat pendaftarannya adalah kamu harus sudah jadi member yang AKTIF. Sebagai gantinya disarankan agar mereka jadi member dulu, dikasih kesempatan buat aktif selama satu tahun dan disarankan untuk daftar lagi tahun depan. YES!!! Lumayan kan mengurangi beberapa saingan. For your information saja sih, tahun-tahun sebelumnya ada lho beberapa orang yang bukan member aktif tapi lolos dalam seleksi program ini dan setelah selesai program, mereka hilang bagai ditelan bumi. Kan 'eek'!
***
Kebayang enggak sih? Buat saya, bulan Januari tahun 2018 ini isinya dag dig dug nunggu pengumuman siapa saja yang akan lolos ke tahap interview. Antara yakin dan enggak yakin sih. Optimis dan pesimis juga. Bukan pesimis sih sebenarnya, lebih ke managing expectation saja. Saya selalu bilang ke diri saya, kamu harus siap apapun hasilnya. Siap menghadapi kenyataan kalau bakal enggak lolos lagi dan siap juga kalau misalnya nanti beneran lolos. 
Tanggal 5 Februari 2018 ada email dengan subject "ANNOUCEMENT: Selected Candidates for Interview WW 2018". Artinya apa? Artinya saya lolos ke tahap interview. Seneng? Bersyukur iya, tapi seneng? Enggak! Saya tambah deg-degan dan harus ekstra mengendalikan emosi saya supaya tidak meledak-ledak saat wawancara nanti.
Bagi saya proses wawancara adalah proses yang paling menyeramkan. Karena sudah berkali-kali saya gagal melewati tahapan seleksi wawancara ini. Bagaimana tidak? Saat wawancara saya bisa jadi sangat tertekan dan panik sekali. Enggak tahu kok tiba-tiba gelisah, pikiran serba salah. Jantung berdebar-debar, kaki selalu gemetar. Semakin enggak tahan aku, semakin tersikasa aku. Lalu ingat dirimu, ingin ceritakan resahku. Sim salabim kucing kawin! (lha kok jadi nyanyi gini? Ada yang tahu ini lirik lagu apa? Komen di bawah ya!)
Anw, biasanya saya abaikan saja rasa deg-degan yang enggak wajar itu. Tapi kali ini saya coba melempar pertanyaan di Instagram story saya karena menurut saya gejala itu enggak wajar dan kalau saya biarkan begitu saja, bisa-bisa saya tidak lolos interview (lagi). Waktu itu saya nulis gini:

"Kalian pernah enggak ngerasa grogi banget, deg-degan (sampai rasanya) kaya jantung mau copot dan sampai enggak bisa gerakin tangan atau kaki karena kesemutan. Itu kenapa ya? (Ada yang tahu enggak? DM ya!)"

Dari story itu, ada banyak orang yang menaggapi. Well, ada beberapa yang jawab guyon dan ada juga yang emang serius mau sharing. That's the way people care about others (me), caranya emang macem-macem sih. Saya ngerti kok, ngerti banget tapi saya bakal seneng banget kalau ada temen-temen yang bener-bener care sama saya, asyik buat sharing, ngasih banyak masukan dan kita involve ke dalam diskusi yang positif.
Ada jawaban dari salah satu temen yang baru banget kenal tapi saya suka sama sikap dia yang care dan saran-saran dia yang sebenarnya simple tapi sangat amat membantu saya. Maklum saya kalau lagi panik suka 'goblog' dan enggak ketolong 'oon'nya. Kata dia gini:

"Relax hahaa..."

"Gimana ya. Stay calm. Jangan terlalu dipikirin!"

"Focus on your aims not the obstacle."

"Jangan mikir aduh gimana ntar interview aku takut blablablabla."

"Latihan aja dikira2 ntar bakal ditanya apa, terus siapin jawabannya apa gimana."

"Show your confident not your fear!"

"Orang kalau gugup atau nervous pasti kelihatan banget. Nah browse aja tuh gimana cara-cara jitu menghadapi interviewer."

Dan dari temen satu ini juga saya akhirnya tahu kalau ada gejala yang namanya panic attack. Apa itu? Googling aja sendiri! :p Intinya panic attack itu gejalanya kurang lebih sama seperti yang saya alami ketika dalam sesi interview. Setiap orang gejalanya beda-beda ada yang keringat dingin, deg-degan, kejang otot bahkan sampai 'grusa-grusu' gak 'genah'. Tapi jangan khawatir, dari yang saya baca gejala panic attack ini enggak akan berlangsung lama kok. Paling banter cuma beberapa menit. Saran saya kalau kamu juga mengalami ini saat interview, lebih baik bilang jujur saja sama interviewer. Minta waktu sebentar buat nenangin diri dan mulailah menenangkan diri. Caranya? Ingat ini ya!

  1. RELAX!
  2. Stop negative thinking.
  3. Use coping statement.
  4. Accept the feeling.
Coping statement itu gampangnya seperti ini, gimana ya? Ya kurang lebih seperti mantra yang harus berulang kali diucapkan untuk 'ngadem-ngademin' diri sendiri. Seperti... I can do it. I am totally fine whatever the result is. Kamu bisa buat coping statement kamu sendiri yang disesuaikan dengan trigger yang kamu alami. Seperti saya yang sebelum interview harus berulang kali bilang sama diri sendiri "kamu pasti bisa! Dan kamu akan baik-baik saja apapun hasilnya."
And yes. I am totally fine now. And the result? To be continued ya! :D

You Might Also Like

1 comments

  1. Ya aku kemarin waktu presentasi di lomba juga sempat panik, padahal waktu latihan udah ngebayangin di depan juri dan oke2 aja.
    Kalau aku sih berhenti sebentar dan atur nafas yang dalam.
    anw, thanks buat tipsnya. Baru tau bisa gitu juga.

    ReplyDelete