Menikmati Semi Chinese Fine Dinning di Hotel Puri Asri

By | August 23, 2018

Image by Ira Sulistiana
Yang follow akun Instagram saya mungkin sudah pada tahu ya kalau malam Tirakatan kemarin atau malam tanggal 16 Agustus 2018 saya rayakan dengan cara menikmati makan malam ala Chinese Fine Dinning di Hotel Puri Asri Magelang. Malam Tirakatan lalu terasa special dan sangat berkesan karena malam itu adalah malam Tirakatan terakhir saya sebelum terbang ke Jerman dan tinggal di sana selama satu tahun. Otomatis malam Tirakatan tahun depan akan saya rayakan di negeri orang. Entah itu kumpul bersama teman-teman relawan asing lain atau berkumpul bersama keluarga besar KBRI Jerman. Ah, entahlah!
***
Sore itu, setelah diajak keliling Hotel Puri Asri Magelang saya dan rombongan menikmati jamuan high tea ala Cafe and Resto Pringgodani. Restaurant ini adalah salah satu dari dua resto yang ada di Hotel Puri Asri Magelang. Ohya, ini sedikit cerita tentang Hotel Puri Asri. Hotel dengan konsep resort ini mempunyai luas area kurang lebih 22 hektar. Sesuai namanya Puri Asri menawarkan konsep penginapan yang asri, kalau lihat di KBBI sih asri berarti indah dan sedap dipandang mata. Benar saja, karena sesaat setelah saya memasuki area Puri Asri mata saya langsung menangkap hijau dan rimbunnya pepohonan di setiap sudut hotel ini. Cerita lengkap tentang Puri Asri akan saya tulis di artikel terpisah ya... Stay tune! (alah, apaansih?!) 
Jadi setelah puas menikmati jamuan high tea dan ngobrol-ngobrol manja, saya masuk ke kamar untuk istirahat dan mandi. Selesai mandi ternyata sudah lebih dari jam enam sore. Mbak Archa (teman sekamar saya) waktu itu bilang kalau rombongan kita harus secepatnya kumpul di restaurant Apung, tempat di mana kita akan makan malam. Sampai di tempat ternyata masih sepi, beberapa orang memang sudah terlihat duduk dan mengobrol, ada juga yang menyanyi, tapi paling enggak sampai sepuluh orang yang sudah di situ. Tidak lama kemudian satu persatu orang dari rombongan kita pun datang. Nah setelah lengkap semuanya baru deh acara intinya dimulai. 
Namanya juga kan malam Tirakatan ya, jadi lagu-lagu yang dilantunkan malam itu adalah lagu-lagu bertema kebangsaan dari mulai dari mulai Bendera, Tanah Airku, Indonesia Pusaka, terus apa lagi ya? Kok saya lupa. Hahahaha 'yowes lah' yang pentingkan review makanannya enggak lupa.
Ngomong-ngomong tentang makanan, ini kali pertama saya menikmati Chinese Fine Dinning di Resto Apung. Pihak hotel mengatakan bahwa konsep restaurant ini diusung oleh sang owner sendiri. Ketika itu sang empunya Hotel Puri Asri sedang jalan-jalan di negeri Cina, melihat ada tempat di tengah-tengah danau ia pun penasaran dan bertanya pada warga lokal. 
"Tempat apa itu?" 
"Dulu Kaisar Cina sering menikmati waktu luangnya di tempat itu untuk sekedar melihat pemandangan di sekelilingnya, menikmati teh, mengobrol dengan keluarga hingga makan malam."
"Oh, this is amazing concept for my hotel!"

Sekembalinya owner ke Indonesia, ia pun mengimplementasikan konsep restaurant apung di area hotelnya. Restaurant Apung tempat saya menikmati makan malam waktu itu berada di atas sebuah danau buatan. Bahkan pengunjung bisa memancing langsung ikan gurame yang benihnya sengaja ditebar di danau buatan itu untuk kemudian dimasak dan dihidangkan ke meja makan. Wow! 
Tapi malam itu kita enggak makan gurame ya guys. Penasaran enggak menu apa saja yang kita nikmati malam itu? Here are they...

Semangkuk Teh Cina

Image by Ira Sulistiana
Saya dengar kalau Fine Dinning ala Chinese itu banyak sekali do's and don'ts yang harus dipatuhi. Agak kagok juga sih karena kan ini pengalaman pertama saya. Beruntung pihak hotel memberikan informasi yang cukup lengkap dan bisa bersikap cukup flexible pada tamu-tamunya. Berdasarkan informasi yang saya dapat, tuangan teh pertama di Chinese Fine Dinning sebenarnya berguna untuk mencuci alat-alat makan yang akan di gunakan seperti sumpit, sendok, piring dan segala macamnya. Hal ini dilakukan untuk mencari hoki disamping memang karena alasan hygiene atau kebersihan. Air teh yang dituangkan pertama kali pun harus benar-benar panas agar bisa membersihkan dan membunuh kuman. Ini sebenarnya ya.... Harusnya sih gitu, tapi malam itu enggak ada acara nyuci alat makan pakai air teh. Karena ya... masa iya sih alat makan yang disediakan pihak hotel belum bersih?
Setelah teh disajikan, saya langsung bisa menikmatinya. Menurut saya aroma teh yang disajikan malam itu tidak terlalu kuat seperti teh melati pabrikan Tegal, aromanya sangat lembut bahkan hampir tidak bearoma. Kalau saya enggak ngendus-ngedus sih dijamin enggak bakal tahu ada aromanya. Rasanya? Buat saya rasa tehnya tergolong mild. Maklum ya saya kan biasa minum teh yang 'wasgitel' alias teh yang wangi, panas, sepet, legi lan kenthel. Jadi ya kalau ketemu teh lain berasa ringan aja gitu. Tapi kalau kopi, beda lagi ceritanya.... (dah ah! Cerita tentang kopinya entar aja).

Szechuan Soup

Image by Ira Sulistiana
Szechuan adalah sup otentik Cina yang mempunyai perpaduan rasa manis dan asam. Rasanya unik dan khas banget. Sup ini berisi irisan daun sawi, tahu, jamur dan telur. Kuah Szechuan yang disajikan malam itu terasa seperti fermentasi kedelai yang familiar di lidah saya. Rasanya seperti tauco, saus khusus yang disiram ke dalam mangkuk soto Tegal. Damn! Kenapa banyak sekali yang mengingatkan saya tentang kampung halaman sih? 
Berbeda dengan tauco, kuah szechuan terasa lebih kuat dan lebih asam. Katanya sih, kombinasi rasa itu fungsinya untuk meningkatkan selera makan kita. To tease appetite bahasa kerennya... to be honest, lidah saya tidak terlalu cocok dengan szechuan soup, not because it was not that delicious but I'm just not into it. 

Pandan Chicken

Image by Ira Sulistiana
Menu ini mirip seperti irisan ayam bacem yang dibungkus cantik menggunakan daun pandan. Rasanya? Jelas lebih enak dari sekedar ayam bacem biasa. Pandan chicken mempunyai rasa rempah yang lebih kaya dan memiliki aroma perpaduan daun pandan serta daun jeruk yang menyatu. Aromanya harum, sangat menggoda selera makan saya. Habis berapa bungkus ya malam itu? Sepertinya ini adalah makanan yang paling banyak saya habiskan. Saya suka sekali dengan menu makanan yang satu ini. Rasanya kaya, khas dan pas. Daging ayamnya juga sangat empuk dan juicy. Hmmmm, yummy!

Singaporean Prawn Curry

Image by Ira Sulistiana
Udang dengan bumbu kari pedas asin ini cukup mengejutkan lidah saya. Rasanya kuat sekali dibanding dengan menu-menu sebelumnya. Tapi dasar lidah saya sangat welcome dengan rasa-rasa yang kuat seperti ini jadi saya happy-happy saja menikmati udang dengan balutan saus kari yang pedas itu. Tapi sayangnya kok kulit udangnya enggak dikupas sekaliam ya? 

Pakcoy Tofu Shiitake

Image by Ira Sulistiana
Hampir mirip dengan cap cay, tapi isian menu ini hanya pakcoy, brokoli, tahu, telur dan beberapa jenis jamur. Paling suka dengan irisan jamur dan brokolinya. Karena memang kedua makan itu adalah favorite saya. Kematangan brokolinya pas dan masih terasa renyah juga. Jamurnya empuk, kenyal dan lembut. Enaklah pokoknya. Tapi sayang, kuahnya terasa terlalu asam dan kurang pedas. Menurut saya rasa ini kurang cocok dengan lidah orang Indonesia, tak terkecuali lidah saya. Tapi kalau orang Eropa saya yakin bakal suka banget, terutama orang Italy. Kenapa? Karena awal bulan Agustus lalu teman saya (orang Italy) sempat masak masakan Italy untuk saya dan rasanya hampir sama seperti kuah pakcoy tofu shiitake yang dihidangkan di Resto Apung Puri Asri malam itu. 

Beef Cinto

Image by Ira Sulistiana
'Mamam tuh cinta!'
Ungkapan itu benar-benar ada dan nyata. Karena di Resto Apung Puri Asri ini saya akhirnya 'mamam cinta' juga. Hahahahaaaa 
Cinto ya bukan cinta!
Okay. Beef cinto ini mirip seperti bistik sapi. Enak? Woia dong! Sapi tuh favorite semua orang bukan? Di masak apa aja bisa enak. Termasuk kalau dipadukan dengan cinta eh dibikin beef cinto maksudnya. Ini enak banget. Sumpah! Manis, asam, pedesnya pas. Tapi... kok ada tapinya? Iya. Tapi daging sapinya kurang empuk. Mungkin bukan dari bagian yang terbaik atau mungkin karena masaknya kurang lama. Eh gimana? 
Sebagai penikmat daging sapi, jujur saya tidak terlalu suka dengan tekstur daging yang nanggung seperti itu. Agak alot, masih chewable sih tapi perlu usaha ekstra buat ngunyahnya. 

Oriental Fried Rice

Image by Ira Sulistiana
Nasi goreng oriental ini mungkin sama seperti nasi goreng Hongkong kali ya... Warnanya kuning pucat gitu karena tidak dibubuhi kecap manis saat memasak. Campurannya ada macam-macam dari mulai ayam, telur, sosis, daun bawang sampai kacang polong. Tapi mohon maaf nih, ini nasi goreng kok seperti nasi goreng kurang bumbu ya? 
Tunggu saat saya makan nasi goreng ini dengan side dish lain seperti Singaporean prawn curry yang rasanya kuat itu. Kalau kedua makanan ini dimakan bersamaan rasanya jadi seimbang. Mungkin itu ya alasanya kenapa rasa nasi goreng dibuat plain dan bumbu udangnya dibuat strong. Cocok sih sama salah satu konsepnya Confucian food basics. 

"Blending of food also results in harmony and is an important part of the philosophy; without harmony foods cannot taste good."

Ngerti kan? Selalu ada alasan dibalik semuanya. Apalagi masakan Cina yang terkenal filosifis abis. Makanya jangan cuma menilai sesuatu dari satu sudut pandang saja!

Hongkong Roasted Duck

Image by Ira Sulistiana
Menu ini katanya adalah menu yang paling recommended to try. Nope. Saya enggak akan menaruh ekspektasi terlalu tinggi karena pada dasarnya saya tidak terlalu suka roasted duck. Karena sebelumnya saya sudah pernah mencoba dan lidah saya kurang cocok dengan masakan satu ini. Saya lebih suka bebek goreng garing yang kresss kriukk sampai ke kulit dan tulang-tulangnya. 
Etapi, saya tetap mencoba menu ini dong and it turned up well. Surprisingly saya suka sama rasanya. Dagingnya empuk dan rasanya lebih gurih dari roasted duck yang saya coba di resto lain kapan hari itu. Saus pedas dan manisnya juga enak banget, ngeblend sama gurih empuknya kulit dan daging bebek. 
***
Setelah ketahuan kalau rasa makanan malam itu harus dipadukan saya mencoba makan beberapa makanan berbarengan agar rasanya menyatu seperti persatuan bangsa kita yang Bhineka Tunggal Ika itu. Ada Jawa, ada Cina, ada Padang, ada Madura, ada Arab, ada India, belum lagi ribuan bahkan jutaan suku lainnya. Mereka semua berbaur menjadi satu dalam Indonesia. 
Hfftt... Semakin dekat dengan waktu beranjak dari Indonesia membuat saya semakin jatuh cinta dengan negeri surga ini. Ah, Indonesia! Kamu memang menyimpan banyak cerita dari berbagai suku bangsa dan budaya. I love you more!
Eitz, kalau kalian mengira ini adalah bagian akhir dari review saya itu betul. (ha ha ha ? )
Tapi sebelum itu masih ada dessert yang mau saya review dulu. Warnanya cantik abis, bentuknya unyu sekali dan rasanya hmmmm jangan ditanya. Pasti manis kaya yang baca #ea...

Mango & Strawberry Pudding

Image by me, taken using Isul's camera
Setelah menghabiskan appetizer dan main course saya menyantap dessert yang enak dan lembut. Enggak seperti kelihatannya, puding ini tidak semanis itu. Manisnya pas, dijamin enggak bakal bikin perut enek. Suka banget sama dua pudding ini. Pudding mangga terasa manis, kecut, seger dan lembut di mulut sedangkan yang strawberry lebih lembut dengan rasa manis yang pas dan meleh di mulut.

Kalau harus kasih rating saya enggak mau ngasih rating satu persatu tapi pengen kasih overall rating aja, sesuai temanya yang Indonesia banget. Harmony in diversity makan malam waktu itu saya kasih rate 8 out of 10. Yeay!
***
Kalau kamu pengen ngerasain pengalaman makan makanan Cina yang Indonesia banget, kapan-kapan datanglah ke Resto Apung Hotel Puri Asri ini. Alamatnya ada di

Jalan Cemaka nomor 9 Magelang 56122 | Jawa Tengah | Indonesia | Telp. 62-293-365115 | Fax. 62-293-364400 | www.puriasrihotel.com | info@puriasrihotel.com

You Might Also Like

5 comments

  1. Kak ceritain gimana pengalaman nginep di Puri Asrinya dong..

    ReplyDelete
  2. jadi laper kan gua
    bdw pudding nya enaaa

    ReplyDelete
  3. Puri Asri emang biangnya.
    Jerman, hiks jauh banget hati2 ya dear

    ReplyDelete
  4. Aku suka Szechuan soupnyaaa..
    Enaaka enaaak..
    Asamnya aman untuk lambung

    ReplyDelete
  5. Bebek pekingnya aduhai banget! Juara..

    ReplyDelete