Bagaimana Momen Mudikmu Lebaran Tahun ini?

By | Juni 27, 2018

Mudik. Kata tersebut memang sudah tidak asing lagi di telinga saya tapi saya baru benar-benar menyadari sepenuhnya arti dari kata tersebut dua tahun belakangan ini. Di Indonesia, mudik selalu identik dengan perayaan hari raya Idul Fitri. Para perantau berjuang untuk balik ke kampung halaman, melepas rindu dan berkumpul dengan keluarga besar.
Tentu saja hal tersebut tidak benar-benar saya rasakan selama dua puluh satu tahun hidup di Indonesia. Hingga dua tahun yang lalu saya memutuskan pindah dari kota kelahiran ke ibu kota provinsi. Tahun pertama, saya terancam tidak bisa mudik. Kenapa? Karena saya bekerja di bidang pelayanan transportasi udara yang mengurusi pengaduan dan pelayanan pelanggan via telepon. Tahukan? Pekerjaan di bidang jasa seperti itu menuntut penyedia layanan harus siap sedia selama dua puluh empat jam, tidak peduli hari akhir pekan, tanggal merah ataupun libur lebaran. Akibatnya penyedia layanan harus menerapkan sistem shifting untuk para pekerjanya. Sebagai konsekuensi, ada beberapa pekerja yang terancam tidak bisa mudik saat lebaran. Ya, saya adalah salah satunya.
Singkat cerita, di tahun pertama perantauan saya akhirnya saya bisa mudik juga dengan sangat terpaksa mengendarai sepeda motor. Keputusan mudik mengendarai sepeda motor sebenarnya akan terus saya sesali sampai sekarang. Tapi toh saya tetap melakukannya. Karena waktu itu, pilihannya hanya dua. Mudik pakai motor atau tidak mudik sama sekali. Sebagai perantau baru tentu saja saya memilih pilihan pertama, alasannya sudah jelas karena saya sudah rindu sanak saudara.
Tapi pilihan tersebut nyatanya saya masih saya sayangkan sampai sekarang. Karena di tahun ke dua tepatnya tahun 2018 ini, pengalaman mudik saya jauh berbeda dengan pengalaman mudik satu tahun silam. Mudik tahun ini saya memilih menggunakan kereta api eksekutif yang tiketnya sudah saya pesan sebeumnya melalui aplikasi online. Di gerbong eksekutif waktu berjalan begitu cepat. Mungkin inilah yang mereka maksud dengan waktu adalah uang. Dengan sedikit lebih banyak uang yang kita keluarkan, kita bisa menghemat waktu tempuh di jalan. Tentu saja tanpa ada drama, tanpa terpapar debu, matahari dan polusi pantura, tanpa ada enegri yang terbuang percuma, tanpa menghadapi resiko tinggi kecelakaan dan segudang manfaat lainnya. Di gerbong kereta eksekutif, yang harus saya lakukan hanyalah duduk sembari kereta malaju, menghantarkan saya ke tujuan akhir perjalanan; kampung halaman.
*** 
Sebagai pertimbangan untuk kalian para pejuang mudik, khususnya yang lebih  memilih mudik dengan mengendarai sepeda motor saya akan menuliskan perbandingan keuntungan dan kerugian mudik menggunakan sepeda motor dengan mudik menggunakan kereta api. Tulisan legkap saya bisa kalian baca di halaman web Kumparan dengan cara mengakses tautan ini. 
Saat ini tulisan sedang dalam proses pembuatan dan akses publikasi tulisan saya di Kumparan juga masih dalam proses pemeriksaan sehingga saya belum bisa memberikan tautannya. Mohon bersabar ya! Sambil menunggu, kalian bisa bercerita tentang momen mudik kalian di kolom komentar. Bagaimana momen mudikmu lebaran tahun ini?

You Might Also Like

0 komentar