Weltwärts and My Struggle

By | May 24, 2018

A year passed and as I knew that this program is annual program, so I decided to give myself a second chance. Of course I managed to get a valid passport and fulfilled others requirements first. But I failed again. Apparently because I could not clearly convinced them that I am eligible for the program that I chose beside there must be better candidate who were more relevant for the project. 

Tahun kedua, ada lagi dong... karena program ini merupakan program tahunan. Di kesempatan kedua ini saya coba-coba daftar lagi, kali ini dengan berbekal passport di tangan. Terus seperti biasa saya mampu menembus short listed candidate buat interview. Tapi kali ini tetap saja saya gagal lagi :( HADEH! Syudahlah mungkin belum rejeki.
Padahal ada drama dibalik passport yang berhasil saya pegang itu. Drama banget yang masih teringat sampai sekarang. Sepertinya seru sih kalau ditulis juga di blog. Tapi nanti saja lah, saya tulis terpisah. Hffttt jadi banyak janji mau nulis ini itu kan jadinya. Enggak apa-apalah biar saya tambah produktif nulis.
Hari-hari setelah kegagalan saya yang kedua, diisi dengan kesibukan di perkuliahan yang membuat saya punya insomnia sampai sekarang. saya fokus kuliah, KKN, kerja sampai skripsi. Saya lulus tahun 2016. September 2016 saya pindah dari ke Semarang, kerja selama beberapa bulan di satu perusahaan dan selama beberapa bulan juga di salah satu perusahaan yang lain. Total waktu kerja saya waktu itu kurang lebih satu tahun. Tapi karena saya bosan. Saya akhirnya memutuskan untuk tidak kerja kantoran.

Few weeks ago in January 2018, I’ve got an insight from Instagram posted by Great Indonesia about the same program I had applied before. I can not deny that I am still interested in applying for the program and it seems that God does not want me to give up. Finally, I decided to take the chance to apply it again. 



Yah. Jodoh emang enggak kemana ya. Awal tahun 2018 setelah saya memutuskann untuk tidak lagi kerja kantoran. Saya mau enggak mau harus kerja jadi buruh ketik. Nulis, bikin konten di blog, dateng ke event blogger, ikutan komunitas sana-sini, dan ikut atau aktif lagi di organisasi yang saya tinggalkan demi skripsi dan gelar sarjana. Berbekal aktif dan kenal orang-orang lama yang udah jadi pemain aktif di organisasi itu, saya akhirnya beranikan diri buat apply WW lagi. Iya WW, biar gampang kita sebut program Weltwärts dengan sebutan WW saja. WW apa? WW gombel? Kalong WW? atau apa sih? Ya pokoknya Weltwärts itu disingkat jadi WW.

Actually, this is such a hard decision for me. To convince my self and to collect pieces of my confidence, I tried to reach my friend especially who had experience of volunteering aboard to have a depth discussion about this. I rang Riya the alumni of Our Food program by Erasmust. We discuss about how should I write in the application form. Then I called Septi, an active volunteer of Indonesian children education to get another point of view.

Sebenarnya agak dilemma juga sih waktu itu, antara mau apply apa enggak? Saya sampai harus calling sahabat saya; Riya, yang pernah ikutan program outgoing juga di Italy buat mendapatkan suntikan semangat dan kepercayaan diri. Saking lama ngumpulin lagi kepercayaan diri saya dan kelamaan mikirin dilemma sampai saya harus isi application form di detik-detik terakhir banget. Besoknya deadline malamnya saya baru isi. Booook! Percaya enggak kalau saya enggak tidur demi selesaiin ini? Besoknya pun belum selesai. Saya sudah mau nyerah. Dalam hati berpikir untuk tidur saja, toh nanti juga pasti deadline akan diperpanjang. Kalau enggak ya sudah. Masih ada tahun depan ini! Tapi orang yang datang langsung secara fisik buat bantuin saya ngisi form ini enggak ngebolehin saya nyerah dan bobok gitu aja.
"GILAK LO! Udah enggak tidur semaleman masa mau nyerah gitu aja dan berharap ada perpanjangan deadline? Enggak! Engggak boleh. Lo harus selesain ini! Lo udah mulai dan lo harus tanggung jawab buat selesaiin ini! Gimana pun hasilnya nanti yang penting lo selesain ini dulu." Katanya.
Antara kesel dan termotivasi sih. Karena sebenarnya yang bikin lama selesainya tuh dia. GILAK tulisan saya di application form hampir semuanya direvisi sama dia. Dibuat lebih dramatis katanya. Biar mereka yakin sama saya. Biar mereka itu lihat perjuangan saya demi dapetin kesempatan ini. 
But, then ternyata akhirnya saya mendapatkan kesempatan ini sih. Waktu itu dia saya kasih coklat dan jajan seadanya, sekarang seharusnya kita ngopi bareng setelah dia pulang dari Turki tapi enggak sempet-sempet karena saya dan dia sama-sama sibuk. Tapi ku cinta dia. Muuach! Pengen tahu enggak siapa dia sebenarnya? Namanya Septi. Baru kenal tapi udah baik banget mau bantuin saya. Dia juga punya blog. Kalau pengen baca, bisa klik di sini.

Then, I tried to send an Instagram direct message to Jene, a volunteer who are still in Weltwaerts program untill now. I asked him if is it okay to call via Whatsapp. He said yes and yes! We had deeper discussion about how should I fill the application form, we discussed it point per point from one question to another. After that,  I read the Calling for Weltwaerts candidate in GREAT Indonesia official website. This time I did not want to make the same mistake again. So, after I knew there were a calling for WW program on Instagram I started to follow the link which brought me to GREAT official website. I had also read the brief project description carefully. I paid my attention in every word written there while figured it out which project that actually relevant for me. 

Malem-malem waktu Indonesia adalah sore-sore waktu Jerman. Saya sengaja kirim DM ke salah satu relawan di sana yang waktu itu dan sekarang masih ada di Jerman buat minta saran. Kira-kira saya harus isi form ini kek mana karena jujur waktu itu, pertanyaan pertama sempat membuat saya pusing kepala. Cuma ditanyain apa itu WW tapi jawabannya harus minimal berapa ratus kata sendiri. Minimal boooook minimal, bukan maksimal. Jawaban pertama saya waktu itu, tidak sampai minimal kata yang diminta. Pas tanya sama Jene, saya malah di suruh enggak usah daftar kalau jawab pertanyaan gitu saja enggak bisa. Seeeeeet dah!
Terus gimana dong? Ya gimana lagi? Harus dijawab lah! Udah elahh! Tapi kan enggak memenuhi minimal katanya. Dari dia saya dapat penjelasan bahwa untuk menjawab pertanyaan bisa dengan cara bercerita, jangan langsung jawab apa adanya. Yaudah akirnya saya cerita runtutnya gimana. Ini yang direvisi sama Septi waktu itu. Katanya kamu tuh orangnya gitu amat sih? Enggak ada drama-dramanya sama sekali? What? Terus dia seenak jidat merubah-ubah jawaban saya. Kacau jadinya. Drama banget. Tapi pas baca-baca lagi saya jadi suka sih. Runtut tapi yang baca enggak sadar kalau itu diruntut. Pokoknya mengalir aja, kan jadi enak dibacanya. Terus waktu itu dia suruh aku kasih sub judul di tiap-tiap kalimat eh maksudnya paragraf  dari jawaban-jawaban saya, enggak usah dikasih nomor urut, cukup judul yang kesannya drama aja biar yang baca juga ikut tertarik sama dramanya! Ck! Nih anak emang dasar ya....

From this calling, I’ve got deeper insight of what exactly the program is. Including the background, project period, requirements, terms and conditions, application procedure and contact person. After read it carefully, I began to realize that every year the number of candidate who will be sent for this program was growing up.  This time I have to do more struggle because I am sure that there must be many candidates who are more capable than me also trying to apply. So I could say that my chance is bigger compared with the past two years but certainly the competition is also getting tighter.

Iya, singkat cerita memang saya akhirnya berhasil mengumpulkan application form saya sebelum deadline. Saya agak optimis waktu itu karena kuota relawan tahun ini lebih banyak dari pada tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya. Tapi tetap saja, 6 orang untuk seluruh Indonesia itu jumlah yang sangat sedikit. Dan karena kuotanya meningkat, bukan cuma kesempatan saya saja yang meningkat tapi persaingan untuk mendapatkan kesempatan ini juga semakin ketat.
Hari itu setelah saya berhasil menyelesaikan revisi dan submit application form, saya tidur. Pulas. Nyanyak sekali. Kemdian esoknya saya bangun dengan sebuah pesan di group WhatsApp khusus member GREAT of Semarang yang intinya pendaftaran WW diperpanjang sampai kalau tidak salah tiga hari ke depan khusus untuk member GREAT Indonesia. Anjay!
Tapi saya bersyukur sih, saya sudah berhasil menjawab semua pertanyaann di application form. Jadi mau ada atau tidak ada perpanjangan deadline pun saya sudah tenang. Fyuuuh....

You Might Also Like

0 comments