Tracking Mangrove di Dewi Mangrovesari dan Menyebrang ke Pulau Cemara

By | January 16, 2018

Blogger rangers
Salah satu jalur di tracking mangrove
Masih ingat tulisan saya tentang kegiatan FK Deswita Brebes di hari pertama? Seharusnya ada sembilan blogger lain yang menikmati beberapa atraksi dan tarian khas daerah Brebes pada malam itu. Namun teman-teman yang menggunakan kereta sore semuanya turun di Tegal karena memang jadwal perjalanan Kaligung sore tidak menjangkau Brebes. Ada juga satu teman saya tertahan di stasiun Brebes karena menggunakan kereta siang, beda dengan saya yang menggunakan kereta pagi dan teman-teman lain yang menggunakan kereta sore dari Semarang. Singkat cerita teman-teman blogger lainnya sampai di desa Kaliwlingi sekitar pukul sembilan malam dan langsung diarahkan ke homestay untuk beristirahat.
Hari kedua jadwalnya adalah tracking mangrove di Dewi Mangrovesari dan menyebrang ke Pulau Cemara. Kami ditemani oleh Mas Auky seorang guide yang sangat ramah dan humoris. Mas Auky alias Bang Bas ini adalah salah satu anggota pokdarwis desa Kaliwlingi. Beliau mengatakan bahwa Dewi Mangrovesari ini merupakan tempat wisata yang berasal dari ide GILA atau Gerakan Insan Lestarikan Alam. Namun ide gila tersebutlah yang akhirnya menyelamatkan pesisir pantai utara dari bahaya abrasi. Malah sekarang desa wisata ini menjadi salah satu tujuan wisata di kabupaten Breses yang termasuk dalam the most visited tourism place.
Brebes saat ini mempunyai wilayah segitiga emas yang merupakan wilayah dengan spot pariwisata yang sangat diminati diantaranya adalah wilayah pariwisata di pesisir pantai utara yang berpusat di Dewi Mangrovesari, wisata alam dan pegunungan yang berpusat di wilayah kebun teh Kaligua dan wisata susur sungai sekaligus body rafting yang berpusat di Ranto Canyon.

Tracking mangrove Dewi Mangrovesari

Hari Sabtu tanggal 9 Desember 2017 kami mendapatkan kesempatan untuk menyusuri pusat wisata di daerah pantura Brebes tepatnya di dusun Pandansari desa Kaliwlingi kecamatan Brebes kabupaten Brebes Jawa Tengah ini. Ada dua spot wisata yang kami sambangi; Dewi Mangrovesari dan Pulau Cemara.
Perjalanan dimulai dari pintu gerbang area wisata Dewi Mangrovesari. Dari informasi yang saya dapat untuk masuk ke objek wisata ini pengunjung hanya dikenakan biaya sebesar Rp. 15.000,- saat weekday dan Rp. 20.000,- saat weekend. Biaya tersebut sudah termasuk biaya penyebrangan menggunakan kapal ke tracking mangrove.
Dari pintu masuk hingga ke lokasi penyebrangan kami melihat banyak warga yang menjajakan barang dagangannya seperti bawang merah, telur asin hingga kepiting. Bahkan ada kios khusus yang menjual barang-barang kerajinan khas pesisir seperti pernak-pernik dari kerang, aneka cindera mata, hiasan dinding dan lain-lain.
Art gallery
Salah satu sudut di showroom art gallery
Telur Asin
Telur asin, panganan khas Brebes
Bawang
Bawang merah, komoditi tani yang banyak dijumpai di Brebes
Mas Auky
Mas Auky sedang membantu promosi salah satu padagang
Kapal di dermaga
Kapal yang kami naiki di dermaga penyebrangan
Butuh waktu sekitar 15 menit dari tempat pertama kami menaiki perahu tadi sampai ke spot wisata utama. Beuhh! Saya sampai melongo terkagum-kagum melihat pemandangan indah sepanjang jalan menuju spot tracking mangrove. Perairan yang kami lewati termasuk golongan perairan tenang, tidak ada ombak sama sekali karena ini memang merupakan daerah air payau dimana air laut dan air sungai bertemu.
Dewi Mangrovesari
Pemandangan yang saya lihat di perjalanan menuju spot utama Dewi Mangrovesari
Dewi Mangrovesari
Dewi Mangrovesari dari kejauhan
Dewi Mangrovesari
Gapura selamat datang Dewi Mangrovesari
Setelah sampai di spot utama, kami turun dari perahu dan dimulailah perjalanan kami menyusuri hutan mangrove sepanjang 1,8 km ini. Sedikit cerita tentang sejarah penanaman mangrove di tempat ini ya... menurut penuturan Pak Auky, tahun 1985 terjadi abrasi besar di daerah pantai utara Brebes karena eksploitasi budidaya udang yang berlebihan. Saat itu ribuan hektare tambak warga hancur terkena dampak abrasi sehingga banyak warga Brebes yang akhirnya berurbanisasi ke kota untuk mencari sumber pendapatan lain.
Tahun 2000 dampak abrasi makin parah sampai-sampai air laut menggenangi beberapa pemukiman warga. Pak Mashadi tokoh masyarakat Brebes pada saat itu mulai mengajak warga untuk menanam mangrove untuk mengurangi dampak abrasi. Walaupun pada akhirnya ada beberapa orang sekitar yang membantunya namun Mashadi ini sempat disangka gila oleh warga. GILA ini kemudian dipelesetkan menjadi Gerakan Insan Lestarikan Alam. Barulah mulai tahun 2005 banyak masyarakat yang bersedia membantu usaha Mashadi untuk menanam mangrove secara swadaya. Bahkan di tahun-tahun berikutnya warga Brebes mulai menerima sumbangan bibit mangrove dari CSR beberapa perusahaan besar dan dari anggaran pemerintah pusat. Hasil penanaman bibit mangrove dari tahun ke tahun inilah yang akhirnya menjadi hamparan hutan mangrove sepanjang 1,8 km. Kini wisatawan termasuk saya dan teman-teman lainnya bisa menikmatinya sebagai tempat wisata susur mengrove yang sangat sejuk dan rimbun.
Dewi Mangrovesari
Pemandangan dari garda pandang satu di dekat jembatan cinta
Dewi Mangrovesari
Jembatan cinta
Dewi Mangrovesari
Salah satu spot instagenic di Dewi Mangrovesari
Saya akui setiap sudut Dewi Mangrovesari ini memang sangat fotogenic dan instagramable. Pak Auky bahkan menyarankan pada kami yang belum menikah untuk melakukan sesi foto prewedding di jembatan cinta, salah satu spot yang ada di wilayah tracking mangrove Dewi Mangrovesari.
Dewi Mangrovesari
Pura-pura prewed 
Selain rimbun dan sejuk, tracking mangrove ini juga bersih. Tong sampah cukup mudah ditemui di setiap sudut. Sebelum melewati jembatan cinta saya juga melihat banyak warung makan yang sepertinya asik untuk disambangi saat santap siang. Yang menarik setiap warung makan ini sudah ada daftar harganya. Memang pengelola Dewi Mangrovesari sudah memberikan edukasi kepada para pedagang tentang standar harga, pedagang tidak boleh mamatok harga terlalu tinggi, harga di satu warung dan warung lainnya pun sepertinya hampir sama karena setiap warung mempunyai spanduk yang mencantumkan daftar menu sekaligus harganya. Dengan demikian para pengunjung yang ingin menikmati makanan di tempat wisata tidak perlu khawatir terjebak harga.
Papan petunjuk arah sudah disiapkan sedemikian rupa agar wisatawan tidak tersesat di dalam hutan. Semboyan-semboyan wisata pun tertata apik di setiap sudutnya. Ada banyak spot foto yang sayang untuk dilewatkan. Tersedia juga menara pandang untuk menikmati pemandangan dari ketinggian. Fasilitas lainnya seperti toilet dan musholla pun tersedia di sini.
Dewi Mangrovesari
Petunjuk arah
Dewi Mangrovesari
Petunjuk arah
Dewi Mangrovesari
Sapta pesona wisata
Perjalanan tracking mangrove kita berakhir di jajaran WTS atau warung tengah sawah yang menjajakan aneka makanan dan minuman. Kami sepakat memesan es kelapa muda untuk menghilangkan dahaga. Rasanya nikmat tak terkira. Sayangnya di area warung tengah sawah ini udaranya terasa sangat panas karena kurang rimbun, ya maklumlah namanya juga daerah pesisir kalau enggak ada mangrove ya akan terasa panas sekali.
Dewi Mangrovesari
Muka-muka lelah usai tracking mangrove
Dewi Mangrovesari
Menikmati segelas es kelapa muda 

Menyebrang ke Pulau Cemara

Sebenarnya saat hendak bertolak ke Pulau Cemara jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Syukurlah saat kami tiba di dermaga sudah ada panitia yang membawakan kami bekal makan siang. Makan siang kami sangat sederhana namun aromanya sangat menggugah selera. Di dalam besek atau wadah nasi dari anyaman bambu ada nasi putih, urab, oalahan udang dan cumi, tahu & tempe serta kerupuk sebagai pelengkap hidangan santap siang. Ada beberapa teman yang makan di dermaga sembari menunggu armada kapal lainnya yang akan membawa kami menuju Pulau Cemara, ada juga yang akhirnya makan di atas kapal. Namun saya memutuskan untuk makan setelah sampai di Pulau Cemara.
Bekal makan siang
Kami berpisah dengan Pak Auky di dermaga Dewi Mangrovesari karena beliau harus mengikuti rangkaian lain di acara FK Deswita Brebes. Sebelum pergi Mas Auky sempat mengenalkan kami pada Mas Fahmi (pengelola Ranto Canyon) dan Mbak Astri yang merupakan pengelola wisata Pulau Cemara. Mereka berdua beserta beberapa teman-temannya lah yang akan mengantarkan kami ke Pulau Cemara.
Perjalanan ke Pulau Cemara dari dermaga Dewi Mengrovesari memakan waktu sekitar 35 menit. Dari situ kami harus naik perahu menyebrangi lautan dengan lintasan diagonal. Kapal kami digoyang ombak yang lumayan besar. Kami hanya bisa diam menikmati buaian dan terpaan ombak. Teman blogger di samping saya malah bajunya sampai basah terkena ombak. Hampir selama setengah perjalanan, kapal yang kami tumpangi tidak stabil, bergoyang-goyang terkena gelombang lautan, pusing saya dibuatnya. Namun perjuangan terombang-ambong di atas kapal terbayar setelah kami menginjakkan kaki di Pulau Cemara.
Sesampainya di Pulau Cemara saya langsung menuju sebuah warung yang ternyata merupakan warung milik orang tua Mbak Astri. Di warung tersebut saya makan bekal makan siang dan memesan minuman dingin. Setelah energi terisi barulah saya mengeksplor pulau cantik ini. Ada beberapa spot foto yang dibuat dari sampah dan barang bekas. Ada ayunan, beberapa saung, warung, musholla, dan surprisingly ada toilet dengan air bersih juga! Menurut penuturan Mbak Astri, pihak pengelola Pulau Cemara harus mengebor tanah sampai bermeter-meter dalamnya untuk memperoleh air tanah yang tidak asin dan ya! ternyata bisa lho... Jadi walaupun letak pulau ini di tengah-tengah laut, supply air untuk berwudhu dan MCK tetap ada. Karena itu Pulau Cemara juga cocok untuk dijadikan tempat nge-camp. Kalau biasanya nge-camp itu di gunung, bolehlah sesekali mencoba nge-camp di pulau tengah laut seperti di Pulau Cemara ini!
Ayunan di tengah laut, sangar rak ndes?
Salah satu spot foto di Pulau Cemara
Ayunan lain di Pulau Cemara
Dari hasil pengamatan saya, pulau terpencil yang terletak di tengah-tengah lautan ini tidaklah luas. Saya kira panjangnya tidak sampai 1 km dan lebarnya hanya beberapa ratus meter saja. Pulau ini sangat pas dikunjungi ketika sore menjelang senja begini. Karena pemandangan sunset dari pulau ini begitu menawan. Sayang hari itu mendung dan kami harus bergegas mengucapkan selamat tinggal ke Pulau Cemara yang menyimpan sejuta pesona.
***
Petualangan saya di hari kedua di desa Kaliwlingi Brebes tidak berkahir sampai di sini. Masih ada cerita tentang pertunjukan Sintren yang saya saksikan malam harinya. Walaupun sebenarnya ketakutan saya tetap tidak melewatkan kesenian tradisional yang sarat akan hal mistis ini. Pengalaman menyaksikan Sintren secara langsung di Brebes ini sekaligus menjadi pengalaman saya yang pertama dan tidak akan pernah saya lupakan sensasinya. Penasaran kan bagaimana keseruannya? Tunggu cerita selanjutnya ya!

Perjalana saya di Brebes kali ini merupakan bagian dari Forum Komunikasi Desa Wisata Jawa Tengah yang diadakan setiap tiga bulan sekali. FK Deswita ini secara bergantian mengunjungi desa wiasata seantero Jawa Tengah sebgai wadah studi banding para pengelola desa wisata yang tergabung dalam kelompok sadar wisata Jawa Tengah. 
Menurut catatan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, tercatat ada 75 desa wisata andalan, 50 desa wisata unggulan dan 22 desa wisata yang layak dikembangkan pada tahun 2016 dan sampai saat ini jumlahnya masih terus bertambah. 


You Might Also Like

2 comments

  1. Ralat, namanya Astri, dek. Mb Pulau Cemara, anaknya ibu Cemara ✌

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh ya mbak Astri, kebiasaan deh suka lupa sama nama orang. :D

      Delete