Albaeta; Keripik Kentang Lokal dari Batur Banjarnegara

By | Januari 06, 2018

Coba sebutkan merk keripik kentang favorite kalian! Dulu kalau saya disuruh sebutin merk keripik kentang favorite saya, pasti jawaban saya adalah Mr. Potato, Pringles dan Lay's. Siapa yang suka juga dengan merk keripik kentang tersebut cung! Saya yakin banyak lah yang suka sama merk-merk yang saya sebutkan tadi. Atau mungkin kalian lebih suka dengan merk yang taglinenya "life is never flat" alias Chitato?
Sebelumnya saya mau cerita sedikit nih tentang sejarah keripik kentang. Siapa sih chef hebat yang mencipkatakn jajanan enak ini? Ternyata keripik kentang ini ditemukan pertama kali di benua Amerika sana oleh seorang chef yang bekerja di Moon's Lake House, sebuah restoran terkenal di New York. George Speck atau yang lebih dikenal dengan nama George Crum (1824-1914) adalah chef yang secara tidak senganja menciptakan keripik kentang. Pria keturunan Afrika-Amerika yang juga merupakan warga asli Amerika ini sering sekali mendapatkan keluhan dari pelanggan di tempat kerjanya. Para pelanggan mengeluhkan kentang yang disajikan di restoran tersebut. Kentang goreng yang disajikan terlalu besar dan basah sehingga para pelanggan kurang menikmatinya. 
Dari keluhan tersebut, Crum kemudian berusaha membuat hidangan inovasi dari kentang dengan cara mengiris kentang tipis-tipis dan digoreng sampai benar-benar renyah. Sebagai pelengkap rasa, gorengan kentang yang tipis tersebut dibumbui dengan sedikit garam. Sejak saat itu keripik kentang menjadi sangat populer dan menjadi camilan nomor satu di Amerika yang paling dinikmati.  

George Crum pada saat itu juga menuai kesuksesan karena resep temuannya tersebut. Berkat keripik kentang dirinya bisa membuka restoran sendiri pada tahun 1860. Restoran ini dikenal dengan nama Crumbs House. Di setiap meja Crumbs House tersaji sekeranjang besar keripik kentang yang dapat dinikmati oleh para pelanggan. Dengan konsep tersebut restoran ini berhasil menarik banyak pelanggan, bahkan sejumlah pelanggan berasal dari kalangan atas. 
Sayangnya George Crum tidak bisa mematenkan resep buatannya karena pada masa itu orang berkulit gelap tidak mempunyai hak mematenkan suatu produk atau penemuan mereka. Saat itu pula, banyak sekali cooking book atau cooking magazine yang menuliskan resep cara pembuatan keripik kentang, sehingga keripik kentang mulai diporduksi secara masal dan dijual secara bebas tanpa memberikan kredit apapun pada penemunya. 
Sementara itu, Herman Warden Lay (1909-1982) juga berjasa mempopulerkan keripik kentang. HW Lay adalah seorang salesman yang bekerja mendistribusikan jajanan ringan produksi sebuah perusahaan yang bernama Sunshine Biscuits. Setelah dipecat dari perusahaan tersebut karena depresi, HW Lay kemudian memberanikan diri meminjam modal untuk memulai bisnis berjualan keripik kentang. Usahanya tersebut berjalan lancar sampai kemudian dirinya bisa meproduksi keripik kentang sendiri dan mempunyai sekitar 25 orang pegawai. Keripik kentang produksinya dilabeli dengan nama Lay's. Benar! Lay's ini merupakan merk dagang yang terkenal sampai sekarang.
***
Siapa sangka di Indonesia juga ada merk keripik kentang yang rasa dan kualitasnya tidak kalah dengan merk-merk tersebut di atas. Ya! Albaeta adalah merk dagang dari salah satu UMKM di Jawa Tengah tepatnya di desa Batur Kabupaten Banjarnegara. Di Kabupaten yang merupakan sebagian wilayah dari Dataran Tinggi Dieng inilah kentang jenis agria ditanam dan diolah menjadi keripik kentang oleh keluarga besar Ibu Ety Tamir. 
Cara penanamannya sama seperti menanam kentang pada umumnya. Ada dua jenis kentang yang ditanam oleh keluarga besar Ibu Ety Tamir. Kentang jenis agria dan kentang jenis granola. Kedua jenis kentang ini merupkan jenis kentang unggulan yang tahan hama. Kentang agria merupakan kentang yang benihnya berasal dari Belanda. Kentang jenis ini mempunyai umbi yang besar seperti umbi ketela rambat. Daging umbinya berwarna kunig tua dan tidak mudah beruah warna walaupun sudah dikupas kulitnya. Tanaman kentang agria disebut-sebut tahan dari penyakit dan virus PUY, umbi dan daunnya tidak mudah membusuk serta tahan terhadap serangan hama nematoda dan keropeng. Kentang agria ini sangat cocok dijadikan bahan baku pembuatan keripik kentang.  
Sementara kentang jenis granola juga merupakan kentang jenis unggulan yang produktivitasnya bisa mencapai 30-35 ton per hektar tanah. Kentang granola juga tahan terhadap bibit penyakit. Jika jenis kentang pada umumnya memiliki kerusakan akibat penyakit sekitar 30%, kentang granola hanya mengalami kerusakan akibat penyakit sekitar 10% saja. Kentang ini bisa dipanen setelah berusia tiga bulan atau sekitar 80-90 hari. Kulit dan daging umbinya berwarna kuning. Betuk umbi dari kentang ini agak lonjong dan jika diperhatikan secara keseluruhan bentuknya menyerupai telur yang berbentuk oval namun ukurannya lebih besar. Kentang jenis ini tidak digunakan sebagai bahan baku keripik kentang, tapi lebih banyak dimanfaatkan sebagai sayuran.   



Kebun kentang milik keluarga besar Ibu Ety Tamir ini terletak persis di sebelah rumahnya. Produksi keripik kentang Albaeta juga dilakukan di rumah keluarga besar tersebut. Jadi bisa dipastikan kentang agria yang menjadi bahan baku keripik kentang Albaeta benar-benar dalam kondisi segar pasca panen sebelum diolah. Proses pembuatan keripik kentang Albaeta pun masih sangat sederhana. Semua proses dari mulai pengupasan, penggorengan hingga pembungkusan masih dilakukan secara manual. Pertama-tama kentang agria dikupas kulitnya, setelah dicuci bersih kentang yang masih utuh tersebut dipotong-potong langsung di atas wajan penggorengan menggunakan alat khusus. Irisan kentang ini lalu digoreng selam kurang lebih 10 menit. Air garam ditambahan sebagai penguat rasa alami di tengah-tengah proses penggorengan. Setalah digoreng, keripik kentang dimasukkan ke dalam spinner untuk mengurangi kadar minyaknya. Kemudian keripik kentang dimasukan kedalam wadah plastik sesuai ukuran yang telah ditentukan. 
Bentuk keripik kentang Albaeta ini besar-besar karena berasal dari kentang agria utuh. Warnanya kuning keemasan dan terlihat sangat menggoda. Tentu saja rasa dari keripik ini sangat enak. Renyah, gurih dan mempunyai rasa kentang alami. Sekali mencoba, dijamin susah berhentinya! Satu lagi keunggulan keripik kentang Albaeta, selain bentuk dan rasanya yang yahud keripik kentang ini bebas MSG. Sekarang sih kalau saya ditanya apa produk keripik kentang favorite saya jawabannya pasti keripik kentang Albaeta lah! Terlebih lagi keripik kentang ini merupakan produk lokal Indonesia, jadi buat kalian nih yang ngaku cinta produk Indonesia harus banget dong cobain keripik kentang produksi lokal satu ini!
Ada tiga kemasan yang tersedia yaitu: kemasan 1,2 kg dalam bentuk karton yang dibandrol dengan harga Rp. 160.000, kemasan plastik ukutan 250 gram dibandrol dengan harga Rp. 32.000 dan kemasan plastik ukuran 2 ons seharga Rp. 29.000 saja. Penasaran ingin mencicipi rasanya? Silahkan hubungi nomor 0286-5986293 untuk info lebih lanjut. 

Kunjungan ke sentra produksi keripik kentang Albaeta
dilakukan dalam rangka Familiarization Trip Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah
17-19 November 2017

You Might Also Like

4 komentar

  1. Albaeta, asli nih kripik kentangnya. Freh from Kebun dan langsung digoreng tanpa bahan tambahan seperti tepung. Apalagi di banjarnegara dikenal sebagai penghasil kentang berkualitas. Pingin......

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk diborong keripik kentangnya :D

      Hapus
  2. Aku suka banget kripik kentang.. udah dijual sampe Semarang juga ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurang tau mbak, tapi mgkn ada di gallery UKMK Kota Lama... ini aku dtg lgsg ke pabriknya :D

      Hapus