Fakta Mengejutkan tentang Pasar Papringan yang Bikin Kalian Ingin Cepat-Cepat Mengunjunginya

By | January 11, 2018

Pernahkan kalian datang ke suatu tempat dan merasakan deja vu yang begitu kental di sana? Bukan karena kita merasa sudah pernah ada di sana sebelumnya atau pernah memimpikan tempat tersebut tapi karena melihat sesuatu yang mengingatkan kalian akan seseorang dari masa lalu. Saya mengalaminya beberapa kali. Saat itu terjadi saya biasanya cenderung menjadi lebih pendiam dari biasanya. Seperti yang terjadi di pertengahan bulan November tahun 2017 lalu.
0 KM Pasar Papringan
Hal tersebut bermula ketika saya datang ke salah satu tempat di Temanggung. Saat itu tempat tersebut sudah dikerumuni banyak orang. Berdasarkan info yang beredar pada saat itu, sekiter 5.000 orang baik dari Temanggung ataupun luar Temanggung menyinggahi tempat yang disebut-sebut sebagai pasar itu. Pasar Papringan. Sesuai namanya, pasar ini memang berada di daerah papringan atau di daerah yang ditumbuhi banyak pohon bambu. Dalam bahasa Jawa bambu disebut dengan pring. Papringan adalah sebutan yang lazim disematkan untuk tempat yang ditumbuhi rindangnya pepohonan bambu. Kesan yang melekat pada tempat dengan nama papringan sejak dulu dikaitakan oleh orang Jawa dengan tempat yang angker, sehingga tempat ini tidak dimanfaatkan dengan cara istimewa. Terkadang (atau seringnya?) papringan malah dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah. 

Pemanfaatan bambu secara istimewa telah saya saksikan sebelumnya di Green School Bali. Awalnya saya hanya melihat di channel Youtube Jalan-Jalan Men sampai akhirnya saya bisa menyambangi tempat tersebut secara langsung pada saat study tour kampus. Green School Bali disebut-sebut sebagai laboratorium alam dan juga merupakan sekolah bagi orang-orang yang ingin belajar mengenal alam. Sejatinya lingkungan di Green School Bali ini juga bisa disebut sebagai papringan tapi bukan pohon bambu yang ada di sana melainkan beberapa bangunan yang seluruhnya terbuat dari bambu. The bamboo palace inspires open minds, open hearts and a great love for our surroundings. Begitulah Green School Bali mengartikan papringan. Kalau kalian lagi di Bali, jangan lupa sambangi tempat yang menganut sustainable system itu ya!
Buat kalian yang belum bisa mengunjungi Bali, di pulau Jawa pun ada tempat yang meskipun konsepnya berbeda tapi menawarkan suasana dan spirit yang sama dengan Green School Bali. Tempat tersebut tidak lain adalah Pasar Papringan Temanggung yang terletak di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung. Di tempat ini juga saya benar-benar merasakan kenangan kecil bersama Ayah saya menyeruak ke permukaan. Hampir saja saya menangis karena di tempat ini saya menemukan jajanan tradisional favorite Ayah saya semasa hidup. Kami biasa menyebut jajanan itu dengan nama ongol-ongol. Ongol-ongol terbuat dari tepung hunkwe dicampur dengan tepung sagu atau tepung tapioka dan potongan-potongan pisang dilengkapi dengan kelapa parut sebagai topping. Rasanya mirip seperti banana cake tapi teksturnya lebih kenyal. Rasanya manis, asin, gurih dan terasa lembut di setiap gigitan. 
Ongol-ongol
Selain deja vu dan kemiripan Pasar Papringan dengan Green School Bali, saya juga menemukan banyak fakta menarik tentang pasar yang hanya beroperasi sebanyak dua kali dalam sebulan ini lho! Penasaran apa saja fakta mengejutkan tentang Pasar Papringan yang bakal bikin kalian ingin cepat-cepat mengunjunginya? Simak terus artikel ini yuk!

Dulunya tempat pembuangan sampah

Seperti dugaan saya, papringan memang sejak dulu sering kali adalah tempat pembuangan sampah. Tak terkecuali papringan di Temanggung ini. Namun papringan di Temanggung yang dulunya merupakan tempat pembuangan sampah sekarang menjadi tempat yang penuh berkah. Bayangkan saja, rata-rata pedagang yang berjualan di Pasar Papringan Temanggung akan mendapatkan untung sekitar Rp. 500.000,- per hari. Pasar Papringan Temanggung juga tidak pernah sepi pengunjung. Setidaknya ada sekitar 5.000 jiwa yang mengunjunginya setiap hari pasaran.

Digagas oleh dua komunitas desa

Komunitas Mata Air dan komunitas Spedagi adalah dua komunitas desa yang menggagas konsep Pasar Papringan di Temanggung. Dua komunitas tersebut mempunyai cita-cita yang sangat mulia yaitu mengurangi jumlah urbanisasi. Kedua komunitas tersebut ingin membuat desa yang amat dicintainya tidak ditnggalkan oleh para generasi muda. Mereka ingin membuat suatu kegiatan positif untuk memotori para pemuda desa agar mereka tetap tinggal di desa. Jadi pada akhirnya nanti tidak ada istilah "balik ndeso, mbangun ndeso" (kembai ke desa untuk membangun desa) namun sebaliknya tetap di dasa untuk membangun desa.

Pernah disambangi langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo

Mas Ganjar terlihat asyique saat membeli jajanan tradisional di Pasar Papringan
Sejak awal berdirinnya Pasar Papringan ini memang sangat fenomenal. Setiap hari pasaran yang jatuh pada hari Minggu Wage dan Minggu Pon saja, Papringan selalu menarik banyak pengunjung dari dalam maupun luar kota bahkan beberapa pengunjung dari luar negeri. Mungkin hal inilah yang akhirnya mencuri perhatian sang Gubernur Jawa Tengah, Mas Ganjar (sapaan akrab Ganjar Pranowo) juga terlihat asyik membeli salah satu jajanan tradisional di tengah-tengah keramaian.

Memberdayakan masyarakat desa

Aneka buah & sayur yang dijual di Pasar Papringan
Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari ketua komunitas Mata Air, semua pedagang yang berjualan di Pasar Paringan merupakan warga asli Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Temanggung. Pun jajanan dan makanan yang dijual di Pasar Papringan hampir semuanya adalah jajanan tradisional buatan penjual. Benda kerajinan yang dijajakan di Pasar Papringan juga merupakan hasil karya putra desa. Hasil perkebunan dan pertanian yang dijual di Pasar Papringan juga berasal dari kebun dan sawah milik warga. Tak terkecuali pihak panitia pengelola pasar, mereka semua merupakan warga desa yang telah diberi pelatihan oleh dua komunitas penggagas konsep pasar.

Melarang penggunaan plastik dan MSG

Tas belanja dari anyaman bambu
Padagang yang berjualan di Pasar Papringan bukanlah padagang sembarang. Mereka harus memenuhi beberapa kriteria yang ditentukan oleh panitia. Diantaranya adalah tidak boleh menggunakan plastik sebgai bungkus makanan, sebagai gantinya mereka harus menggunakan bungkus dari daun pisang. Jajanan dan makanan yang mereka jual juga harus terbuat dari bahan-bahan yang sehat dan tidak boleh menggunakan MSG. Sama halnya dengan pedagang, para pembeli juga dilarang menggunakan kantung plastik sekali pakai untuk membawa belanjaan mereka yang banyak. Mereka harus menggunakan reusable bag, jika tidak punya mau tidak mau mereka harus memberi tas dari anyaman bambu yang dijual di area kerajinan bambu.

Tidak menerima rupiah

Sisa uang jajan
Transaksi jual beli di Pasar Papringan tidak dilakukan dalam bentuk rupiah. Pasar Papringan mempunyai alat tukar tersendiri yang disebut dengan pring. Satu pring senilai dua ribu rupiah. Sebelum memasuki area pasar, para pengunjung bisa menukarkan rupiah dengan pring di stand khusus penukaran mata uang. Pring yang telah ditukar hanya bisa digunakan untuk bertransaksi di Pasar Papringan dan tidak dapat dirupiahkan kembali. Jika ada pring yang tersisa pada saat kunjungan, pring dapat digunakan untuk transaksi pada kunjungan berikutnya.

Fasilitas lengkap

Ada perpus mini juga lho di Pasar Papringan
Walaupun konsepnya adalah pasar tradisional yang terletak di tengah-tengah hutan bambu, fasilitas di Pasar Papringan ini ternyata sangat memadai. Mulai dari fasilitas umum yang biasa ditemukan di pasar lainnya seperti tempat sampah, tempat duduk, toilet, tempat sholat dan sumber air untuk kegiatan cuci-mencuci. Hingga fasilitas yang unik seperti perpustakaan mini, taman bermain, bahkan bilik menyusui juga ada lho di Pasar Papringan!

Nguri-uri kearifan lokal

Tak dapat dipungkiri bahwa Pasar Papringan ini mempunyai andil yang sangat besar dalam hal nguri-uri atau melestarikan kearifan lokal. Pasalnya makanan yang dijual di Pasar Papringan hampir semuanya adalah makanan tradisional yang sudah susah dijumpai di tengah masyarakat kita. Bukan hanya makanan, jajanan dan minumannya juga demikian. Bahkan beberapa diantaranya terdengar asing di telinga kita. Apa saja contohnya? Sengaja tidak saya sebutkan agar kalian penasaran. :p Yang jelas, Pasar Papringan adalah surga bagi para pecinta kuliner.
Pertunjukan jaran goyang :D
Selain itu, di area bermain pasar ini juga menyediakan aneka macam dolanan tradisional seperti egrang, congklak, tali karet, tolop, gasing, kitiran,  beberapa mainan dari pelepah pisang dan lain sebagainya. Tak jarang di area permainan ini juga diadakan pertunjukan tari tradisional. Waktu saya berkunjung ada penampilan tari jaran dari anak-anak setempat. Pertunjukannya sangat sederhana tapi banyak pengunjung yang tertarik untuk melihatnya. Hampir semua pengunjung juga terlihat sangat menikmati guyonan penari yang sesekali muncul di tengah-tengah pertunjukan tari.
***
Bagi yang sudah pernah berkunjung ke Pasar Papringan, adakah fakta menarik lain tentang pasar satu ini yang kalian temukan? Share di kolom komentark yuk! *wink...

Kunjungan ke Pasar Papringan Temanggung 
dilakukan dalam rangka Familiarization Trip Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah
17-19 November 2018

You Might Also Like

0 comments