Kopi Beraroma Tembakau dari Temanggung ini Memukau Masyarakat Dunia

By | December 16, 2017

"Kenali lebih dalam dan terpukaulah oleh lugunya sebuah pesona."
~Filisofi Kopi Tubruk 

Bicara tentang kopi mungkin saya bukan ahlinya. Oleh sebab itu ketika akan membuat tulisan ini saya sengaja menonton film Filosofi Kopi 1 & 2 terlebih dahulu. Dari film tersebut saya tahu bahwa para pecinta kopi di seluruh dunia setuju kalau kopi bukan untuk diminum namun untuk dinikmati. Syukurlah saya bukan termasuk orang yang sering minum kopi. Saya lebih sering memanfaatkan kopi untuk keperluan lain. Keperluan apa itu? Nanti akan saya bahas di akhir tulisan ini. Makanya baca terus tulisan ini sampai akhir ya! 
Sebelum itu, saya ingin sedikit bercerita tentang kisah saya dengan kopi. Saya mengenal kopi sejak lama, sejak saya berumur 4 atau 5 tahun. Ayah sayalah yang pertama kali mengenalkan saya pada kopi. Ayah saya adalah penikmat kopi Lampung dan kopi klasik Kapal Api. Tetapi saya tidak begitu akrab dengan kopi. Hanya sesekali ikut mencicipi kopi di gelas Ayah saya itupun kalau kopi yang diseduh telah dicampur dengan gula. 


Setelah beranjak remaja, saya mulai mengenal kopi lebih baik lagi. Saya tahu bubuk hitam satu ini berasal dari biji kopi yang ditumbuk atau digerus menggunakan alat penggerus biji kopi. Hal ini saya ketahui ketika mengikuti event English Camp di Salib Putih Salatiga. Di sana para participant camp ditunjukkan bagaimana proses pembuatan kopi dari biji sampai menjadi bubuk. Di perkebunan Salib Putih saya juga melihat tanaman kopi dengan beberapa biji yang berwarna hijau dan merah. Melihat itu, saya hanya bisa bergumam kenapa biji kopi yang gerus tadi berwarna hitam ya? 
Kopi Posong dari Temanggung untuk Dunia
Pak Tuhar (nomor dua dari kiri) sedang menjelaskan proses pembuatan kopi.
Gumaman saya beberapa tahun silam ternyata bisa terjawab ketika saya mengunjungi rumah salah satu petani kopi di Temanggung. Beliau bernama bapak Tuhar. Pak Tuhar adalah petani kopi yang telah menanam kopi sejak tahun 2003. Lingkungan tempat tinggal pak Tuhar yang diampit dua gunung yakni gunung Sindoro dan gunung Sumbing, rupanya merupakan berkah tersendiri yang cocok untuk ditanami kopi. Kopi yang ditanam dan diproses di daerah tersebut dikenal dengan nama kopi Posong.
Dari penjelasan beliau saya tahu bahwa biji kopi yang baik berasal dari biji yang berwarna merah. Petik merah, begitu istilahnya. Untuk menghasilkan kualitas kopi yang baik proses penanaman, pemetikan biji kopi dan cara mengolah biji kopi mempunyai andil yang sangat besar. Pak Tuhar selalu mewanti-wanti petani kopi lain yang ada di daerahnya untuk melakukan petik merah. Para petani kopi di daerah tempat tinggal pak Tuhar memang kebanyakan belajar secara otodidak. Pengetahuan mereka tentang cara pengolahan kopi pun terbilang minim. Pak Tuhar adalah sosok yang rela berbagi pengetahuannya tentang kopi pada petani lain di daerahnya.
Salanjutnya biji kopi yang telah kering, dipilih lagi. Hanya biji dengan kualitas baiklah yang akan disangrai. Saya melihat biji kopi sebelum disangrai masih berwarna hijau, biji ini sering disebut green bean. Green bean ini kemudian disangrai menggunakan sistem hot air flow pada suhu 180-200° C. Proses inilah yang membuat biji kopi berwarna hitam pekat. Biji kopi yang telah disangrai ini kemudian diproses lagi agar menjadi bubuk hitam. Bubuk inilah yang kemudian diseduh menjadi minuman yang bisa dinikmati oleh para pecinta kopi. 
Kopi Posong dari Temanggung untuk Penikmat Kopi Seluruh Dunia
Green Bean yang siap disangrai.

Keunikan Kopi Posong Temanggung

Kopi Posong dari Temanggung untuk Dunia
Secangkir kopi Posong tanpa gula.
Temanggung sejak lama dikenal sebagai kota penghasil tembakau terbaik di dunia. Oleh sebab itu tidak sulit menemukan tanaman tembakau di kota ini. Petani kopi di daerah ini punya cara unik untuk menghasilkan biji kopi beraroma tembakau. Pohon kopi ditanam berdampingan dengan pohon tembakau. Konon katanya biji kopi akan menyerap aroma tembakau. Hal ini menjadi nilai plus bagi para penikmat kopi dan penikmat tembakau (read: perokok). Dari penuturan teman saya, seorang penikmat kopi sekaligus penikmat tembakau, secangkir kopi tanpa gula yang dihidangkan di rumah pak Tuhar waktu itu memang beraroma tembakau. Rasanya asam dan sedikit manis. Tapi saya sama sekali tidak merasakan manisnya. Bagi saya rasa kopi hitam tanpa gula itu pahit sepahit kisah cinta kita. #eaa
Selain aroma tembakau, kopi Posong yang dibuat oleh pak Tuhar ini ternyata telah melanglang buana hingga ke seberang benua. Prestasinya pun sudah bisa dibilang membanggakan. Kopi ini menyambet juara 3 di Festival Kopi Nusantara tahun 2014. Kopi Posong pak Tuhar juga pernah dipamerkan di ajang Coffee Association America entah di tahun berapa. Kemudian kopi ini juga ikut unjuk gigi di festival lain tahun 2017 diantaranya adalah World Coffee of Budapest 2017 & Seoul Coffee Expo 2017. Dari ajang-ajang tersebut kopi Posong pak Tuhar mulai diminati masyaralat dunia terutama di kalangan para pecinta kopi Korea Selatan.
***
Well, sampai paragraf ini kalian pasti sudah tahu bahwa saya bukan seorang peminum kopi. Pengetahuan saya tentang kopi pun masih sebatas itu saja. Saya cuma tahu rasa kopi itu pahit dan mengandung kafein yang bisa membuat laju detak jantung semakin cepat. Singkat kata saya bukan penikmat kopi sejati, hanya ikut-ikutan saja karena demam film Filosofi Kopi. 
Memang saya jarang minum kopi dan jarang banget nongkrong di kedai kopi. Tapi saya punya cara tersendiri untuk menikmati kopi. Cara seperti apa yang saya lakukan? 

Memanfaatkan Biji Kopi sebagai Pengharum Ruangan

Karena saya sadar saya tidak bisa terlalu sering minum kopi, saya tidak membawa pulang (read: membeli) serbuk kopi yang dijejer di show room di depan rumah pak Tuhar. Sebagai gantinya saya mengambil beberapa biji kopi yang belum disangrai. Niatnya sih hanya untuk kenang-kenangan. Semacam something to keep from your journey saja. Biji kopi tersebut saya taruh di dalam wadah rotan di dalam kamar saya. Sejak hari pertama saya pulang dari Temanggung sampai sekarang saya selalu mencium wangi kopi di kamar saya. 
Saat saya menginap di The Wujil Resort juga saya mencium wangi kopi. Lalu di saat yang lain saya juga mencium wangi kopi di ruangan ATM dan di ruangan tempat pacar saya bekerja pun saya pernah mencium aroma kopi, ternyata mereka memang memasang pengharum ruangan dengan aroma kopi. Belakangan saya mulai sadar ternyata kopi memang bisa dimanfaatkan sebagai pengharum ruangan. Kopi mempunyai aroma terapi yang menenangkan ditambah lagi kopi memiliki sifat dapat menyerap bau-bauan tidak sedap. Maka tidak heran kan kalau banyak orang yang memanfaatkannya sebagai pengharum ruangan. Anw, kopi juga bisa dimanfaatkan untuk menghilangkan bau amis dari peralatan makan lho...

Menggunakan Sebuk Kopi sebagai Lulur Mandi

Siapa yang suka luluran sebelum mandi? Tunjuk diri sendiri. Yups. Saya suka sekali luluran. Minimal satu minggu sekali saya luluran. Selain merilekskan badan luluran juga dapat menghaluskan tekstur kulit kita. Salah satu lulur favorite saya adalah kopi. Selain wanginya yang bikin rileks, lulur kopi juga mudah dibuat. Tinggal campurkan sebruk kopi dengan air atau essential oil sampai bertekstur seperti pasta kemudian aplikasikan campuran tersebut keseluruh badan sebelum mandi, diamkan beberapa saat lalu bilas menggunakan air. 
Serbuk kopi yang bertekstur lebih halus dari gula, membuat kopi menjani alternatif scrub bagi orang-orang yang mempunyai kulit sensitif seperti saya. Manfaat lulur kopi antara lain mengangkat sel-sel kulit mati, membuat tekstur kulit menjadi lebih halus dan lembab, membuat kulit nampak becahaya dan sebagai anti-oksidan kulit. Tertarik untuk mencoba lulur kopi? Dijamin 'me time' kalian di akhir pekan bisa lebih seru setelah mamakai lulur kopi ini!

Maskeran Pakai Serbuk Kopi dan Madu 

Pernah dengar tidak kalau masker kopi berkhasiat untuk menyembuhkan jerawat? Kandungan kafein pada kopi ternyata memiliki manfaat sebagai anti-inflamation alias anti peradangan. Karena itulah masker kopi digadang-gadang dapat menyembuhkan jerawat. Untuk membuat masker kopi caranya sangat mudah. Campuran yang paling umum digunakan adalah kopi dan madu. Campurkan satu sampai dua sendok teh serbuk kopi dan madu secukupnya. Aduk hingga berbentuk seperti pasta kemudian aplikasikan masker ke seluruh muka. Diamkan 15-30 menit lalu bilas.
Madu dan kopi merupakan perpaduan alami yang dapat menyembuhkan jerawat. Kalau kopi punya kafein sebagai zat anti peradangan. Madu juga mempunyai zat yang berfungsi untuk menutrisi dan melembabkan kulit. Madu sangat baik untuk menutrisi kulit berminyak karena dehidrasi, sehingga madu efektif untuk menyeimbangkan minyak pada kulit. Kalau kadar minyak di kulit sudah seimbang, otomatis bakteri dan kotoran penyebab jerawat akan berkurang. 
Terakhir, jangan lupa menggunakan kopi alami tanpa campuran apapun untuk memanfaatkannya sebagai pengharum ruangan, lulur mandi maupun masker wajah. Kopi alami dapat dibeli langsung pada petani kopi seperti pak Tuhar. Jika tertarik dengan kopi Posong kalian bisa mendatangi sentra pembuatannya di Desa Tlahap, Kecamatan Kledung, Temanggung Jawa Tengah. Atau hubungi nomor 081226999215 untuk informasi lebih lanjut.
Kopi Beraroma Tembakau dari Temanggung ini Memukau Masyarakat Dunia

Kunjungan ke sentra produksi Kopi Posong Temanggung
dilakukan dalam rangka Familiarization Trip Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah
17-19 November 2017

You Might Also Like

4 comments

  1. Kopi juga bisa dicemil. Belakangan aku doyan nyemilin biji kopi yang enak itu. Crunchy. Pernah beli juga biji kopi yang digabung dengan dark chocolate dari salah satu toko coklat di Bali. Enaaakkkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dark chocolate & coffee? Gimana ya rasanya? Duh aku gabisa bayangin deh! Aku pernahnya makan dark chocolate yang dicampur sama licorice :) rasanya exotic banget! hahahaha

      Delete
  2. Ada juga yang pake kopi untuk "menyamarkan" bau durian. Hehe

    ReplyDelete