Belum Bisa Berdamai dengan Ibu Guru

By | Desember 13, 2017

Kisah dengan Ibu Guru yang Belum Usai
Walaupun sebenarnya banyak guru yang menginspirasi tapi ketika saya disuruh mengingat tentang kenangan saya bersama guru yang teringat adalah kenangan suram. Ini terjadi di kelas tiga sekolah menengah, waktu itu saya mengikuti seleksi tingkat sekolah untuk mengikuti kompetisi bahasa Jepang tingkat Jawa Tengah. 
Guru Bahasa Jepang waktu itu (guru baru) yang mengadakan seleksi untuk lomba tersebut. Tiga orang dengan nilai tertinggi akan dijadikan tim inti perlombaan yang nantinya akan digembleng untuk maju ke tingkat provinsi mewakili sekolah kami. Hasil seleksipun keluar. Nama peserta seleksi ditulis dari siswa yang memperoleh nilai tertinggi ke nilai terendah disertai berapa nilainya. Saya melihat nama saya sendiri ada pada urutan pertama dengan nilai sempurna. Wah waktu itu saya senang bukan kepalang. 
Sebenarnya saya cukup sering mengiuti lomba atau kompetisi mewakili sekolah saya. Walaupun jarang membawa pulang piala. Saya juga heran kenapa setiap saya mewakili sekolah saya tidak pernah menjadi jaura berbeda ketika saya mendaftarkan diri secara mandiri. 


Tidak lama sebelum seleksi lomba bahasa Jepang itu, saya beserta 5 orang teman saya baru pulang mewakili beberapa perlombaan yang dikemas dalam konsep English Camp tingkat Jawa Tengah di Salatiga. Sayang sekali saat itu kami tidak berhasil membawa pulang satu pun piala. 
Saya juga pernah mengikuti lomba baca puisi, seleksi OSN (Olimpiade Sains Nasional) tingkat Kabupaten dan beberapa lomba lainnya tapi tidak satupun berbuah manis. Tidak dapat juara sama sekali. Berbeda dengan beberapa siswa bimbingan ibu guru itu yang sering sekali memenangkan perlombaan. Dan salah satu siswa bimbingan lainnya yang paling tidak pernah membawa pulang piala beberapa kali. Atau kemenakan ibu guru itu sendiri yang katanya juga capable dan pintar. 
Kembali ke kompetisi bahasa Jepang tadi. Sehari setelah hasil seleksi keluar, seleksi kedua diadakan lagi tanpa sepengetahuan saya. Seleksi apalagi kalau bukan seleksi untuk mencari pengganti saya? Hfftt... saya tahu hal ini saja bukan dari ibu guru itu langsung tapi dari kemenakan ibu guru tersebut yang kebetulan (kebetulan atau kebetulan ya?) terpilih menjadi pengganti saya. 
Setelah terpilih pengganti saya, barulah ibu guru itu angkat bicara. Dari penjelasannya sih jelas ada keraguan besar yang ditujukan pada saya. Dengan alasan memberi kesempatan pada kepada siswa lain untuk mengikuti lomba saya digantikan begitu saja tanpa ada diskusi lebih dahulu. Apapun pembelaan yang saya lontarkan ditolak mentah-mentah. Bukan. Saat ibu guru itu bicara dengan saya mengenai saya yang harus digantikan, itu bukan merupakan negosiasi tapi pilihan mutlak yang harus saya turuti bahwa saya tidak boleh lagi mewakili sekolah di kompetisi tingkat propinsi. 
Padahal ya, ibu guru itu yang memaksa saya hengkang dari kompetisi adalah guru bahasa Indonesia. Bukan guru bahasa Jepang yang mengadakan seleksi di awal. Hanya karena ibu guru itu senior dan ibu guru bahasa Jepang adalah orang baru maka hasil seleksinya tidak berarti apa-apa bagi pihak sekolah.
Walaupun pada akhirnya saya terpaksa menerima keputusan itu, tapi ketidakadilan yang saya terima ini banyak sekali memperngaruhi kondisi psikologis saya saat remaja. self-esteem saya tiba-tiba terjun bebas ke tempat yang paling rendah. Tak lama setelah kejadian itu saya gagal meraih juara LKS (Lomba Kreativitas Siswa) tingkat kabupaten. Hal yang paling saya khawatirkan saat itu juga akhirnya terjadi. Ayah saya akhirnya meninggal dan saya dihadapkan dengan perubahan sikap Ibu kandung saya yang kembali labil, suka marah-marah dan selalu menyalahkan saya. What a perfect combo! 
Siapapun yang mengenal saya saat itu pasti setuju kalau keadaan saya sangat memprihatinkan. Tapi bisa apa saya selain berpura-pura kuat sampai saya lupa kalau sebenarnya saya sedang berpura-pura. Saya menjadi kuat dengan sendirinya. Tapi sampai saat ini saya belum bisa berdamai dengan ibu guru saya itu. Itulah kenapa saya tidak terlalu dekat dengan dosen-dosen saya di Universitas. Rasa kagum saya hanya sekedar dosen ini punya metode mengajar yang bagus, dosen itu tidak benar-benar mempersiapkan materi tetapi punya improvisasi yang bagus, dosen ini sangat pintar tapi kurang pandai dalam menyampaikan materi, dosen yang lain ah cuma gede omong doang tapi ga pelit ngasih nilai dan lain sebagainya. 
Selama empat tahun kuliah saya juga tidak terlalu terbuka pada teman-teman karena masih merasa insecure dengan pengalaman buruk di masa lalu. Tingkat percaya diri yang dulu hampir over waktu itu hilang tak berbekas sama sekali. Beberapa orang yang hanya sekedar kenal saya mungkin menganggap saya ini acuh, gak friendly sama sekali, gak perhatian, selfish, dan apapun itu lah. Tapi sebenarnya saya sedang menata perasaan saya, mengumpulkan kepingan hati yang pecah, menanam keberanian, berusaha kuat sambil sesekali menangisi dan menyalahkan keadaan.

~ Mungkin tidak ada orang yang benar-benar tahu kisah ini sampai akhirnya saya ceritakan di blog ini untuk meramaikan tema Arisan Blog Gandjel Rel ke 16 dengan tema guru special for mbak Relita dan mbak Yuli Arinta. Makasih lho udah kepo sama hubungan saya dengan guru saya. :p

You Might Also Like

2 komentar

  1. Kamu lbh kuat dr yg km bayangkan. Apapun itu km berhasil melaui semuanya. Ayok sekarang kita mulai menyusun puzzle khidupan kita bersama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apakah ini semacam ajakan untuk menikah? :D

      Hapus