Buku Favorit yang Menginspirasi Kehidupan Sehari-Hari

By | Juli 24, 2017

Sebenarnya belum cukup banyak buku yang saya baca selama ini. Bahkan jika dibandingkan dengan orang lain yang mengaku "gemar" membaca jumlah buku yang saya baca masih terpaut sangat jauh dengan mereka. Saya memang hobi membaca, bahan bacaan saya bisa berasal dari mana saja (bahkan berkali-kali saya baca hoax), sesuatu yang cheesy, novel, buku, jurnal, tulisan di blog, buku manual, majalah, koran dan lain sebagainya.  
Saya sempat bingung pas ditanya buku apakah yang paling menginspirasi kamu dalam kehidupan sehari-hari? Tik tok tik tok... perlu waktu loading yang lumayan lama to figured it out. Sampai akhirnya saya teringat novel tebal yang saya baca kesekian kalinya dari tumpukan koleksi buku-buku tebal milik almarhum Ayah saya. Hafalan Shalat Delisa. Buku itu tampaknya hadiah kenang-kenangan dari salah satu mahasiswa bimbingan skripsi yang dipangku almarhum Ayah saya pada saat itu. Ayah saya sendirilah merekomendasikan buku tersebut untuk saya baca. 


Hafalan Shalat Delisa adalah buku tebal kedua yang saya baca setelah Ayat-Ayat Cinta di usia saya yang waktu itu masih amat belia (kalau tidak salah kelas 5 SD). Awalnya saya tidak tertarik sama sekali dengan buku tersebut karena sampulnya. YA! Sampul cetekan yang saya dapat pada waktu itu terlihat suram sekali. Baru lihat sampulnya saya sudah bikin hati saya mendung. Hikz T.T tapi pada akhirnya saya membaca cerita dalam buku tersebut sampai tuntas. 
Buku Favorit yang Menginspirasi Kehidupan Sehari-Hari
Sampul HSD yang saya punya
Pada awal kemunculannya di dunia tulis menulis, Tere Liye sang penulis buku enggan mengungkapkan identitasnya sebagai seorang individu. Saya masih ingat pada saat itu susah sekali untuk mencari identitasnya. Bahkan dalam suatu blog pribadi (mungkin milik bang Tere sendiri) beliau mengungkapkan untuk sementara ini beliau tidak akan mengungkapkan identitasnya ke publik dengan alasan yang tidak dijelaskan. Saya hanya baca sekilas itu saja sampai akhirnya saya dapat menikmati karya-karya bang Tere yang lain setelah bertahun-tahun lamanya. 
Sampai saat ini bang Tere adalah penulis favorit saya dan adik perempuan saya. Pernah suatu hari saya hampir saja berkesempatan bertemu langsung dengan beliau tetapi terpaksa saya gagalkan karena bertepatan dengan Training for Camp Leader yang harus saya ikuti di Salatiga dan saya hibahkan kesempatan tersebut ke adik perempuan saya. Sejak saat itu adik saya terus saja memburu tulisan-tulisan lain dari bang Tere. Bahkan saat saya di Jogja saya dipaksa untuk memborong beberapa novel bang Tere sekaligus! *tepok jidat
Sederet karya beliau sudah rampung kami baca dari mulai Hafalan Shalat Delisa, Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Sepotong Hati yang Baru, Berjuta Rasanya, Moga Bunda Disayang Allah dan Rindu yang belum rampung sampai sekarang karena saya pinjamkan ke teman dari tahun 2015 dan belum kembali sampai sekarang hiks... 
Adik saya ternyata lebih banyak lagi, terakhir dia cerita dia juga sudah merampungkan beberapa buku lain selain yang saya sebut di atas yaitu: Sunset Bersama Rosi, Negeri para Pedebah, Kau Aku dan Sepucuk Angpau Merah, Ayahku Bukan Pembohong, Negeri di Ujung Tanduk, Rembulan Tenggelam di Wajahmu dan belakangan mulai merancu lagi minta dibelikan trologi Bulan Bumi dan Matahari. 
Buku Favorit yang Menginspirasi Kehidupan Sehari-Hari
Trilogi Bulan Bumi Matahari
Well balik lagi ke buku favorit yang menginspirasi kehidupan sehari-hari versi saya. Bagi saya Hafalan Shalat Delisa mencerminkan semua fase kehidupan manusia. Delisa adalah kita semua, lebih spesifik lagi Delisa adalah saya. Tokoh Delisa begitu menginspirasi dan terlalu banyak kemiripan dengan saya di sana sini. Bagaimana dia adalah seorang anak kecil dari keluarga kecil, utuh, bahagia dan sederhana. Bagaimana pun dia adalah anak kecil biasa yang selalu bertengkar dengan kakak-kakaknya. Seorang anak kecil yang lumrah menginginkan hadiah atas hal yang dicapainya. Namun yang membuat dia berbeda adalah keberaniannya mengucapkan "Delisa sayang Ummi karena Allah", keseriusannya dalam menghafal bacaan-bacaan shalat dan ketegarannya menerima kenyataan dan bagaimana dia menjadi ceria kembali setelah keterpurukan yang amat sangat. 
Kisah Delisa seperti analogi dari kehidupan saya sendiri. Bagaimana saya harus berjuang di tengah-tengah keluarga yang sudah tidak utuh lagi semenjak kepergian Ayah saya untuk selamanya. Bagaimana saya harus tetap tersenyum di tengah terpaan cobaan ujian hidup yang tak kunjung usai. Seperti Delisa saya hanya bisa berjuang sekuat tenaga dan seperti Delisa saya harus berusaha menerima kenyataan yang ada. Seperti Delisa yang berani untuk tetep ceria di tengah keterbatasan hidupnya dan seperti Delisa yang selalu berusaha untuk tetap berkarya. Kisah Delisa terpatri sangat dalam di hati saya hingga kini, kisah ini menjadi kisah yang menginspirasi kehidupan saya sehari-hari. 

~ Terimakasih Mbak Vita Pusvitasari dan Mbak Anita, tema kali ini inspiratif sekali. Seperti biasa tulisan dengan tag Arisan Blog adalah tulisan yang didedikasikan untuk pemenang Arisan Blog Gandjel Rel Semarang yang sudah memasuki periode 7 ini. Nantikan tema-tema seru lainnya ya... *stay tune!!!

You Might Also Like

5 komentar


  1. Makasoh ya uzha sudah nulis ini, wah bagus bukunya, aku baru tahu filmnya hafalan shalat delisa yang bikin haru, dan kalau tere liye baru punya rindu bukunya, ya buku motivasi dan mengingatkan kita kepada Allah selalu aku suka karena menginspirasi dalam kehidupan sehari -hari 😊

    BalasHapus
  2. Aku juga salah satu penggemar karya beliau. Novel pertama yang aku baca Hafalan Shalat Delisa. Bahkan dulu sempat kepikiran kalau Bang Tere Liye ini ya bapaknya Delisa sendiri. Saking ga bisa ditrack penulisnya.

    Aku belajar sih, dari novel ini bahwa seringkali kita melakukan sesuatu karena mengharapkan sesuatu. Ya, taruhlah dalam hal ibadah ya, kadang-kadang suka belum keikat langsung sama Allah, tapi karena menginginkan sesuatu yang masih duniawi.

    Semoga nanti bisa mengajari anak beribadah karena Allah SWT semata. Jadi, ada ikatan kuat dengan Rabb-nya :)

    BalasHapus
  3. Waah...suka buku2nya bang Tere ya. Tapi emang bagus2 kok bukunya

    BalasHapus
  4. Saya belum bc novelnya mb, tapi udah liat film nya..bikin nangis

    Semoga mb uza sll dikuatkan Allah dalam menjalani kehidupan nya yaa, Aamiin

    BalasHapus
  5. Aku malah duluan lihat filmnya dibandingin baca novel Hafalan Shalat Delisa. Terharuuu banget pas lihat filmnya. Delisa luar biasa banget semangatnya ya. Begitu juga dengan Ujha ya, semoga selalu kuat dan diberkahi Allah.

    BalasHapus