Work Camp, Saat-saat yang Paling Saya Rindukan

By | Juni 09, 2017

Rutinitas pekerjaan atau ngantor yang sudah hampir satu tahun saya jalani ini ternyata sangat amat membosankan. Oleh karena itu saya nge-blog disela-sela jam kantor yang sibuk atau merelakan weekend untuk kopdar atau jalan-jalan dengan teman-teman blogger yang lain sekedar untuk bercengkrama melepas penat. Kegiatan monoton sehari-hari yang hanya itu-itu saja saya akui memang membuat tingkat stress saya justru bertambah. Saya merasa terisolasi, tidak bisa bersosialisasi, merasa bosan, penat, tidak produktif dan sangat melelahkan. Padahal sebenarnya load pekerjaan saya di kantor tidak terlalu banyak. 
Saya ingin bebas dan lepas menikmati perbedaan dan kejutan-kejutan yang ditawarkan setiap berkelana ke tempat yang baru dan bercengkrama dengan orang asing. Kebebasan yang dulu sangat saya nikmati. Sepanjang tahun 2014 dan awal tahun 2015. Ada apa di tahun-tahun tersebut? Penasaran ceritanya, yuk baca terus sampai akhir!

Seminar Bertajuk Cross Cultural Understanding 

Mulai dari awal ya, sejak semester 2 awal-awal jadi mahasiswa saya memang aktif menjajali berbagai kegiatan di kampus dari mulai bergabagai seminar, teater, English club sampai group paduan suara saya ikuti. Namun tidak ada yang bertahan lama. Kenapa? Ada alasan tersendiri yang rasanya tidak etis bila disampaikan di sini. Baiklah, lanjut cerita saja.  Singkat cerita dari salah satu seminar yang saya ikuti saya kemudian mengenal sebuah organisasi IVS (International Voluntary Service) yang mempunyai program-program sangat menarik. Program mereka bermacam-macam, tema yang mereka angkat pun sangat beragam dari mulai masalah lingkungan, pendidikan, kebudayaan hingga isu-isu menarik lainnya seperti anak jalanan dan anak yang tinggal di lingkungan prostitusi. Program mereka tidak hanya ada di Indonesia saja, mereka juga mempunyai kerjasama dengan organisasi serupa yang tersebar di seluruh dunia.

Training New Member

Karena ketertarikan saya dengan program-program mereka akhirnya saya putuskan untuk bergabung dengan organisasi tersebut. Ada beberapa training yang harus saya ikuti untuk berpartisipasi aktif dalam organisasi tersebut. Pada saat pertama kali bergabung ada training for new member. Dari situ saya dikenalkan lebih dalam lagi mengenai seluk-beluk dunia IVS, apa yang dilakukan oleh IVS, sejarah IVS dan materi-materi lain yang tujuannya adalah untuk menyamakan persepsi kita tentang IVS itu sendiri.
Work Camp, Saat-saat yang Paling Saya Rindukan
Training New Member, Semarang.
Training ini bertempat di Semarang dan dilaksanakan selama dua hari. Untuk hari pertama lebih difokuskan untuk perkenalan dan meteri. Di akhir sesi para peserta dibagi menjai beberapa kelompok untuk mengkoordinir campaign dengan tema-tema tertentu. Kelompok saya mendapat tema lingkungan. Kita ditantang untuk mengkonsep sebuah acara sosialisasi di keramaian car free day kota Semarang hanya dalam waktu satu malam saja. Begitulah, tak ada yang tak mungkin kalau kita bekerjasama dalam kelompok. Keesokan harinya para peserta benar-benar diterjunkan langsung untuk merealisasikan ide-ide kreatif yang mereka rancang semalam suntuk. Hasilnya? Respon masyarakat yang positif dong tentunya walaupun ada beberapa yang cuek bebek. hehehe

Training for Bahasa Indonesia Teacher

Selang beberapa bulan setelah training new member, saya mengikuti training for bahasa Indonesia teacher. Training ini bertujuan untuk mempersiapkan relawan lokal dari Indonesia untuk mengajarkan bahasa Indonesia ke relawan asing yang akan berkegiatan di Indonesia. Yups, setelah kita bergabung dengan organisasi ini kita disebut sebagai relawan, relawan ga melulu identik dengan bencana alam kan? ;)
Nah, setelah menjalani training for bahasa Indonesia teacher saya aktif mengajarkan bahasa Indonesia kepada relawan asing yang pada saat itu sedang berkegitan di Tegal. Ada sekitar 5 relawan (dalam rentang waktu berbeda) yang berkegiatan di Tegal. Setidaknya satu minggu dua kali saya mengadakan kelas bahasa Indonesia dengan mereka. Selain itu cabang organisasi IVS yang ada di kota Tegal pada saat itu juga aktif mengadakan kegiatan kerelawanan lainnya seperti: penggalangan dana untuk bencana alam, mengajar bahasa Inggris ke anak-anak panti asuhan, menanam pohon, mengunjungi sekolah-sekolah untuk bersosialisasi tentang pertukaran budaya, serta aktif berpartisipasi di bebagai acara sosial lainnya. Kegiatan semacam ini saya lakoni sejak tahun 2012 hingga 2014.

Petualangan dalam Work Camp pun dimulai...

Sedangkan pada tahun 2014 hingga awal tahun 2015 saya lebih banyak berkegiatan di Semarang, karena pusat organisasi IVS yang saya ikuti ini memang ada di Semarang. Sepanjang tahun itu saya sering sekali wara-wiri Tegal-Semarang. Dari Semarang kemudian saya berkelana ke kota-kota lainnya. Hal ini saya lakukan demi menjadi seorang campleader di International workcamp atau kemah kerja Internasional. Seperti 2 training yang saya ikuti sebelumnya, sebelum menjadi camp leader saya juga harus lulus dari program training for campleader yang diadakan selama 4 hari di Salatiga. Training ini bertujuan untuk mengenalkan relawan calon camp leader ke semua tetek-bengek per-work camp-an. Dari mulai hal-hal yang harus diurus sebelum, selama dan setelah selesai work camp. 3 hari terakhir di acara training tersebut dirancang seperti mini work camp, jadi peserta training tidak hanya dijejeli materi yang itu-itu saja tapi juga diajak langsung praktek di lapangan. Acara training diakhiri dengan interview dan placement. Saya cukup kaget karena mendapatkan dua placement sekaligus dengan waktu yang berdekatan.
Sebenarnya dalam hal waktu tidak terlalu bermasalah karena bertepatan dengan liburan semester yang sangat panjang (yeyeye) tapi masalahnya adalah saya kurang percaya diri dengan kemampuan saya. Tapi pada akhirnya saya coba untuk memberanikan diri mencoba. Jadilah saya menjalani kegiatan work camp selama 2 minggu berturut-turut di Blora. Setelah selesai dengan administrasi, laporan dan segala macamnya satu miggu kemudian saya sudah harus berkegiatan lagi selama 2 minggu juga di Jogyakarta.
Participants of Semoya Camp, Jogyakarta 2014
Saat-saat itu seperti lari marathon sambil mengais pengalaman dan pelajaran baru yang sangat amat berharga bagi saya. Saya jalani semua itu walaupun kadang sambil tertatih-tatih dan dengan semangat yang naik turun. Bagi saya saat-saat itu sangat berkesan. Saat itu saya belajar sekaligus tentang manis dan pahitnya kehidupan. Seperti apa sih work camp itu? Baiklah akan saya berikan gambaran.
Sekelompok orang yang datang dari berbagai negara berkumpul di suatu tempat untuk menjalankan misi kemanusiaan. Tema dari kegitan yang akan kita lakukan sudah dirancang sedemikian rupa sesuai tempat diselenggarakannya kegiatan tersebut. Contoh work camp saya di Blora bertajuk Blora Education Camp maka para relawan akan lebih banyak berkegitan dengan hal-hal yang berbau pendidikan, mengajak anak-anak Blora untuk gemar membaca dan mengunjungi perpustakaan, melakukan kunjungan ke beberapa sekolah dengan membawa misi pertukaran budaya serta belajar bahasa. Kebetulan work camp saat itu bertepatan dengan perayaan hari lahir Indonesia para relawan asing juga sedikit banyak mengikuti rangkaian acara peringatan kemerdekaan seperti pawai karnaval, malam resepsi sampai upacara peringatan kemerdekaan RI.
School Visit Blora Edu Camp, Blora 2014
Bayangkan saja sekelompok orang asing yang baru kenal, datang dari berbagai latar belakang kebudayaan dan bahasa yang berbeda dengan pola pikir yang berbeda pula dituntut untuk bersama-sama berkegiatan membawa misi kemanusiaan. Drama-drama kehidupan pada saat-saat seperti itu pasti ada. Dari mulai masalah masakan, alergi, nyamuk, adzan subuh, kamar mandi, cucian, eng-engan (tukaran), ambek-ambekan, seru-seruan, ketawa-ketiwi, curhat-curhatan, nangis, diem-dieman, kekeluargaan, persahabatan, toleransi, saling mengenal, bertukar pikiran, saling mendengarkan, berbagi, saling mengasihi, saling mengerti, ngrasani, ejek-ejekan, cie-cienan, berdebat, perbedaan bahasa, perbedaan pendapat dan berbagai bumbu kehidupan lainnya. Tapi saat-saat seperti itu justru adalah saat-saat yang paling saya rindukan.
Dari work camp saya belajar mengerti, saya belajar mandiri, saya belajar memahami perbedaan, saya mulai mengerti bahwa banyak sekali perbedaan di dunia ini, kita tidak perlu menganggap diri kita paling benar sendiri pun tidak selalu orang yang tak sependapat dengan kita berarti mereka salah. Saya mendapat banyak teman diskusi, mendapat banyak masukan saran dan kritikan. Work camp merubah pandangan hidup saya, mengubah pola pikir saya, membuka pikiran saya, menambah wawasan saya dan memperkaya tabungan pengalaman saya.
Insyallah tahun depan saya mau mulai ngecamp lagi, semoga...

~ Tulisan ini dipersembahkan untuk pemenang arisan blog Gandjel Rel periode 3 yaitu Mbak Rizka Alyna dan Mbak Alley H. Duh jadi malu deh lagi-lagi saya belum kenal secara personal sama dua orang tersebut. Semoga suatu saat diberi rezeki untuk bertemu. ;) 

You Might Also Like

0 komentar