Tulisan Pertama yang Dimuat di Koran

By | Mei 20, 2017

Hobi menulis Saya sudah ada sejak masih kecil. Abah saya mengajarkan budaya menulis sejak dini sekali. Dari mulai menulis surat, menulis cerita, menulis puisi dan lain sebagainya. Pengalaman pertama menulis surat adalah ketika kelas satu MI. Saat menjadi juara kelas Abah menyarankan saya untuk memberitahukan kabar gembira ini ke sanak saudara, kebetulan sebagian besar saudara masih tinggal di kota yang sama jadi mudah saja untuk memberitahu mereka perihal kabar gembira ini. Namun salah satu kerabat ada yang tinggal jauh di luar kota sana. Saya ingat sekali waktu itu belum ada hand-phone dan telepon pun masih jarang ada. Surat menyurat menjadi pilihan utama jika ingin berkomunikasi dengan orang nan jauh di sana.
Singkat cerita saya akhirnya menulis surat untuk Paman saya yang berdomisili di kota Bogor. Karena belum percaya diri dengan tulisan tangan saya sendiri yang seperti ceker ayam, saya lebih memilih menulis menggunakan mesin ketik. Huruf demi huruf saya ketikkan, kata per kata saya periksa hingga akhirnya menghasilkan satu dua kalimat yang isinya mengabarkan kabar gembira dan secara tersirat meninta hadiah atas keberhasilan saya menjadi juara kelas saat itu.
Tulisan Pertama yang Dimuat di Koran
Mesin ketik jadul, sampai sekarang masih ada lho di rumah saya :)
 Selang beberapa minggu surat balasan beserta hadiah boneka pun saya terima. Sumpah saya merasa girang bukan kepalang. Sejak saat itu momen penerimaan hasil laporan belajar per triwulan adalah momen yang paling saya tunggu-tunggu. Jika saya berhasil menjadi juara kelas lagi, saya meminta Abah untuk menemani saya mengetik surat yang akan saya kirimkan ke paman saya. Tentu saja tidak lupa saya menyiratkan permintaan hadiah sebagai tanda ucapan selamat untuk keberhasilan saya.
Dari pengalaman menulis surat saya mulai gemar menulis dari mulai menulis narasi yang diterangkan guru, menyadur tulisan, meringkas materi pelajaran, menulis buku harian, menulis puisi dan cerita pendek. Melihat kegemaran saya menulis, Abah menyarankan saya untuk mengirimkan salah satu karya tulis saya ke salah satu koran mingguan yang hits pada saat itu; Koran Junior Suara Merdeka.
Antara kaget dan termotivasi saat itu saya malah kebingungan memilih tulisan yang mana yang akan saya kirimkan. Sebenarnya yang ada di benak saya pada saat itu lebih kepada tulisan seperti apa kira-kira yang bisa dimuat di koran sekelas Junior Suara Merdeka ya? Nah, untuk mencari jawabannya saya sempat melakukan riset kecil-kecilan dengan cara membaca beberapa edisi Junior Suara Merdeka sambil mempertimbangkan kemampuan menulis saya. Dari sekian tulisan yang saya baca, yang paling menarik perhatian saya adalah rubik pengalamanku yang berisikan tentang cerita pendek pengalaman yang pernah dialami dalam kehidupan sehari-hari. Dari satu edisi ke edisi lainnya rubik pengalamanku biasanya hanya memuat dua sampai tiga tulisan saja setiap minggunya. Berbeda dengan rubik puisi yang memang lebih banyak menampilkan karya-karya puisi anak bangsa. Sekitar tujuh sampai sepuluh puisi dimuat tiap minggunya.
Melihat peluang yang cukup besar pada rubik puisi, saya mulai berusaha menulis beberapa puisi untuk dikirimkan ke redaksi. Puisi-puisi tersebut sudah saya kirimkan kemudian saya juga menulis satu cerita pengalaman bermain layang-layang bersama sepupu-sepupu saya. Cukup lama saya menunggu sekitar dua tiga bulanan lah. Tidak ada satu pun tulisan saya yang naik cetak. Padahal setiap hari minggu saya antusias sekali membaca edisi terbaru Junior Suara Merdeka tapi sedih rasanya ketika menyadari tidak ada tulisan saya di sana. Sampai akhirnya saya mulai sibuk dengan tetek bengek sekolah dan tidak lagi rutin membaca Junior Suara Merdeka lagi.
Sampai suatu ketika tetangga saya memberikan kabar gembira bahwa ada salah satu tulisan saya yang dimuat di rubrik Pengalamanku. Cerita layang-layang yang saya ceritakan dengan menyebutkan sederet nama sepupu-sepupu saya pun membuat tetangga saya tidak ragu lagi bahwa saya lah si penulis cerita itu. Mendengar kabar gembira tersebut saya langsung gentayangan mencari edisi yang ada tulisan saya tersebut. Ternyata benar-benar ada tulisan saya di sana. Yeay! Cerita tersebut adalah karya pertama saya yang mendapat apresiasi tinggi sampai bisa dimuat di koran. Kemudian edisi minggu selanjutnya saya juga menemukan satu puisi saya yang berjudul Matematika. Dan tulisan lain yang lebih ringan tentang tebak-tebakan.
Kejadian tersebut menjadi kenangan masa kecil yang paling membekas diingatan saya. Sampai pada saat usia remaja pun saya masih rajin mengirimkan karya-karya tulis saya ke majalah yang diterbitkan oleh dinas pendidikan kota setempat. Saat kuliah pun saya masih suka menulis, dari mulai menulis blog, proposal, tugas kuliah, karya ilmiah dan essay. Beberapa lomba penulisan karya ilmiah kerap saya ikuti tapi hanya ada satu karya yang berhasil mendapatkan juara tiga tingkat universitas. Saya juga sangat sering mengikuti lomba menulis essay, walaupun essay-essay saya lebih banyak tereliminasi pada proses seleksi awal namun hal tersebut tidak menjadikan semangat dan kepercayaan diri saya melemah. Justru saya benyak belajar dari pengalaman menulis tersebut. Sampai pada saat semester akhirpun saya masih mengikuti lomba penulisan essay. Lomba tersebut adalah lomba terakhir saya dengan status sebagai mahasiswa. Dan memang benar tidak ada usaha yang sia-sia dan hasil tidak akan menghianati proses. Essay dengan tema lingkungan dan peran pemuda yang saya tulis mendapat respon baik dari pihak penyelenggara lomba. Saya beserta 10 finalis lainnya diundang untuk mempresentasikan essay yang kami tulis langsung dihadapan dewan juri. Dan memang hasil akhirnya sungguh tidak mengecewakan. Saya berhasil membawa pulang piala The First Runner-Up English Essay Competition throughout Java.
Tulisan Pertama yang Dimuat di Koran
~ Tulisan ini didedikasikan untuk dua orang pemenang arisan blog Gandjel Rel periode I; Mbak Anjar Sundari dan Mbak Nia :). Meskipun mungkin kita belum pernah ketemu ya Mbak. Salam kenal…

You Might Also Like

0 komentar