Menyambangi Desa Wisata Mangrovesari Kaliwlingi dan Wisata Lain di Kabupaten Brebes

By | Januari 15, 2018

Dewi Mangrovesari Brebes
Pemandangan dari salah satu garda pandang Dewi Mangrovesari Brebes
Kaligung yang saya tumpangi tiba di stasiun Brebes pukul 11.28 siang, kebetulan waktu itu ada ibu-ibu yang menegur teman seperjalanan saya. "Hai mbak! Ngapain di sini? Mau kemana?" sapa ibu tersebut. Saya yang tidak tahu-menahu soal mereka yang ternyata kenal pun hanya bisa diam memperhatikan.
"Kita mau ke acara FK Deswita bu, katanya nanti ada yang jemput." terang teman saya. "Lha ini!" seru ibu itu mengagetkan. Ternyata sudah ada beberapa orang berseragam kaos biru yang membawa kertas bertuliskan PENJEMPUTAN PESERTA FK DESWITA JATENG. Mereka berdiri berjejer di depan pintu masuk gebang stasiun. 
Hari itu Jumat tanggal 8 Desember 2017, panitia sigap menjemput peserta karena tahu sebagian besar pesertanya berasal dari luar kota dan membutuhkan akomodasi agar cepat sampai ke masjid terdekat untuk melaksanakan sholat Jumat. 
Dari stasiun Brebes mobil melaju ke alun-alun Brebes. Di situ rombongan kami berhenti untuk menyambangi Masjid Agung Brebes. Baik peserta maupun panitia yang merasa punya kewajiban bergegas ke masjid untuk Jumatan. Sementara kami yang perempuan lebih memilih ngadem di Indomaret untuk membeli minuman dingin. Mumpung di Indomaret, saya sendiri menyempatkan membeli tiket pulang ke Semarang untuk lusa. Selanjutnya karena waktu itu merupakan jam makan siang kami pun keluar untuk mencari sesuatu yang bisa mengganjal perut. Persis di depan masjid ada batagor yang bisa kami nikmati dengan harga sekitar lima ribu rupiah saja. 
Brebes memang dekat-dekat jauh dengan saya. Letaknya hanya berjarak beberapa kilometer dari Tegal. Teman-teman saya juga banyak yang berasal dari Brebes. Kendati demikian saya tidak terlalu mengenal Brebes. Hanya sesekali menyambangi dan melewatinya saat ada perlu saja. Tentu saja selain keperluan untuk berwisata, karena wisata di Brebes dari dulu tidak terdengar gaungnya. Saat saya mendapat ajakan untuk mengikuti acara ini pun saya masih menyimpan tanda tanya dan keraguan besar. Akankah tempat wisata yang kami tuju benar-benar worth to visit
Keraguan saya terjawab saat akhirnya saya melihat langsung bagaimana kelompok sadar wisata (pokdarwis) desa Kaliwlingi Brebes begitu apik menjadikan desa mereka sebagai salah satu tujuan wisata baru di Brebes. Desa ini ternyata menyimpan potensi wisata yang sangat luar biasa. Sebut saja Dewi Mengrovesari, Pulau Cemara, tempat pembuatan garam rebus dan tempat budidaya kepiting soka (soft-shell crab).

Day 1

Dari alun-alun Brebes mobil kembali kami naiki menuju pom bensin Sawojajar untuk refill energy. Sesekali terdengar obrolan orang yang juga mengantri bensin dengan dialek medhok khas Brebes. Mendengar hal itu teman-teman saya saling lempar pandang memberi isyarat bahwa mereka tidak mengerti, kemudian pada detik selanjutnya mereka tertawa. Sontak Pak sopir dan temannya pun bingung. Apa gerangan yang membuat penumpangnya tertawa secara tiba-tiba. Bagi saya kejadian seperti itu sudah tidak asing lagi. Dialek Tegal maupun Brebes memang terdengar lucu bagi pendatang. Tak dipungkiri dialek tersebut mempunyai daya tarik tersendiri yang bisa membuat orang tertawa bahkan sampai terpingkal-pingkal. Tahu komedian Sri Wahyuningsih atau Cici Tegal? Perhatikan cara bicaranya saat melawak, kurang lebih seperti itulah dialek orang pesisir pantai utara tak terkecuali orang Tegal dan Brebes. 
Dari situ kemudian mobil berbelok ke jalanan yang lebih kecil dari jalan utama. Kalau dari arah alun-alun Brebes jalan tersebut letaknya persis sebelum pom bensin di sisi kanan jalan. Mobil terus melaju di jalanan Sawojajar menuju ke dusun Pandansari desa Kaliwlingi. Kami diturunkan di sebuah pendopo untuk keperluan registrasi. Selanjutnya kami diantarkan ke homestay masing-masing. Saya memutuskan untuk tidur sebentar dan mempersiapkan diri menghadiri acara di malam hari.

Nikmatnya sajian kupat glabed dan sate blengong saat makan malam

Waktu makan malam pun tiba, saya dan teman saya dijemput oleh panitia untuk makan malam sekaligus mengikuti rangkaian acara di pendopo desa Kaliwlingi. Pendopo terlihat masih sepi saat kami sampai, teman-teman lain yang sejak sore tadi dalam perjalanan menuju Brebes pun belum kelihatan batang hidungnya. Kami dipersilahkan menikmati makan malam. Malam itu menunya sangat special. Kupat glabed dan sate blengong khas Brebes. Wah asik nih! Sudah lama saya tidak menyantap kuliner tersebut. Sebenarnya di Tegal pun ada kupat glabed dan sate blengong tapi katanya sih yang dari Brebes ini rasanya lebih nikmat dan gurih.
Kupat glabed & sate blengong
Kupat glebed dan sate blengong
Kupat atau ketupat mungkin sudah tidak asing lagi di telinga para pecinta kuliner Indonesia, tapi bagaimana dengan kupat glabed? Yang membedakan kupat glabed dengan ketupat pada umumnya adalah campuran rempah di kuah kuningnya. Perpaduan antara bawang, jahe, kemiri, kencur, ketumbar, kunir, laos, sereh, daun salam dan rempah lainnya menghasilkan aroma harum tersendiri dan rasa yang sungguh menggugah selera. Saya rasa rahasia gurihnya kupat glabed Brebes ini adalah tambahan santan pada kuahnya. 
Sementara sate blengong adalah sate yang terbuat dari daging blengong. Blengong sendiri merupakan sebutan yang lazim untuk hewan hasil perkawinan silang antara bebek dan mentog. Sate yang satu ini tidak dibakar seperti sate pada umumnya, tapi diungkep bersama bumbu rempah, kacang yang telah disangrai lalu dihaluskan dan santan. Tidak heran dagingnya empuk, gurih dan legit. Keseluruhan rasanya bagaimana? Jangan tanya lagi, yang pasti enak dan sedap! 

Launching maskot Dewi Mangrovesari 

Selepas makan malam epik dengan kupat glabed dan sate blengong acara dilanjutkan dengan beberapa kata sambutan dan pembukaan desa wisata Mangrovesari Kaliwlingi. Acara ini sekaligus meluncurkan maskot desa wisata kaliwlingi berupa patung ikan glodok atau mudskipper jantan yang sedang tersenyum lebar sembari merentangkan tangannya. Ikan ini mengenakan pakaian yang bertuliskan huruf "M" yang mewakili nama Mangrovesari. Patung tersebut seolah mengatakan selamat datang pada setiap wisatawan yang berkunjung ke Dewi Mangrovesari.
Maskot Dewi Mangrovesari
Maskot Dewi Mangrovesari berupa ikan glodok
Acara malam itu tidak berakhir sampai di sini. Selanjutnya ada sajian tarian selamat datang khas Brebes, tarian Dewi Mangrovesari dan atraksi bambu gila. Yang menarik bagi saya adalah tarian Dewi Mangrovesari. Tarian ini berkisah tentang sejarah desa Kaliwlingi yang dulunya subur dan makmur namun karena ulah manusia yang serakah terjadilah abrasi besar-besaran yang merusak alam sekitar. Abrasi melanda sebagian besar wilayah pesisir Brebes sehingga warga kehilangan satu-satunya sumber penghidupan.
Tarian selamat datang
Tarian selamat datang
Tarian Dewi Mangrovesari
Tarian Dewi Mangrovesari
Atraksi Bambu Gila
Atraksi Bambu Gila
Sosok Dewi Mangrovesari dalam tarian itu digambarkan sebagai seorang dewi penyelamat masyarakat pesisir dari bencana alam. Dewi Mangrovesari yang sejatinya adalah singkatan dari Desa Wisata Mangrovesari, suatu wilayah konservasi mangrove jenis rhizophora yang sekarang banyak dikunjungi oleh wisatawan karena daya tariknya. Dengan hadirnya sosok Dewi Mangrovesari, masyarakat pesisir Brebes tidak hanya terselamatkan dari bencana alam tetapi juga kembali mendapatkan sumber penghidupan mereka bukan hanya dari tambak garam dan budidaya biota laut tapi juga dari kegiatan wisatanya yang mulai ramai.

Day 2

Tracking mangrove Dewi Mangrovesari
Lanjut susur laut ke Pulau Cemara
Sintren

Day 3

Melihat proses pembuatan garam rebus
Mengintip bududaya kepiting soka

Perjalanan saya di Brebes masih berlanjut ke hari kedua dan ketiga. Bagaimana keseruannya? Akan saya tulis di artikel terpisah. Ditunggu ya! :)
Jembatan Cinta Dewi Mangrovesari
Tunggu pengamalan seru saya melewati jembatan cinta ini ya!
Perjalana saya di Brebes kali ini merupakan bagian dari Forum Komunikasi Desa Wisata Jawa Tengah yang diadakan setiap tiga bulan sekali. FK Deswita ini secara bergantian mengunjungi desa wiasata seantero Jawa Tengah sebagai wadah studi banding para pengelola desa wisata yang tergabung dalam kelompok sadar wisata Jawa Tengah. 
Menurut catatan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, tercatat ada 75 desa wisata andalan, 50 desa wisata unggulan dan 22 desa wisata yang layak dikembangkan pada tahun 2016 dan sampai saat ini jumlahnya masih terus bertambah. 

You Might Also Like

2 komentar

  1. Okeee sudah baca.
    Lebih ke ceremonial yak?
    Kupat glubed sama blengong udah maem.

    BalasHapus
  2. Aku baru sekali makan sate blengong, di alun2 Brebes... Hm..jd pengen nyicip lagi niih..

    BalasHapus